Jumat, 12 Oktober 2012

YAYASAN BAMBU INDONESIA Cetak 500 wirausaha per tahun

YAYASAN BAMBU INDONESIA Cetak 500 wirausaha per tahun

Compact_ukm__12_
BOGOR:  Yayasan Bambu Indonesia menargetkan kelahiran sekitar 500 wirausaha baru setiap tahun di Indonesia melalui produk industri kerajinan tangan berbasis bahan baku bambu di bawah koordinasi yayasan tersebut.
 
Djatnika Nanggamihardja, pemilik Yayasan Bambu Indonesia, mengatakan untuk merealisasi penciptaan wirausahawan baru dari pelaku industri kerajinan bambu, pihaknya meminta dukungan berbagai pihak terkait kerajinan bambu.
 
”Untuk bisa memahami industri kerajinan bambu sekaligus menjadi wirausaha, saya hanya memerlukan sekitar 3 hari memberi pelatihan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (3/7/2012) saat ditemui di sanggarnya di perumahan Bumi Cibinong Endah, Sukahati, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. 
 
Djatnika menjamin keahlian dasar membuat kerajinan sudah dimiliki seorang calon wirausaha ketika menjadi peserta pelatihan di sanggarnya. Sedangkan biaya untuk menjadi peserta pelatihan selama tiga hari plus akomodasi sebesar Rp1,5 juta.
 
Menurut dia, industri kerajinan yang terbuat dari bambu harus dipertahankan eksistensinya. Sebab, bisa memberi dua makna penting bagi kehidupan manusia. Pertama, bisa jadi tanaman penghijau lingkungan, dan bahan baku bambu tidak akan pernah habis seperti halnya kayu.
 
Sampai saat ini Djatnika bersama Yayasan Bambu Indonesia tercatat telah menghasilkan 660 wirausaha baru. Namun dia belum memonitor jumlah penciptaan wirausaha baru yang dihasilkan dari perajin atau anak didiknya.
 
Sesuai kriteria wirausaha, maka ke-660 alumni sanggarnya memiliki potensi besar menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan tetap. Djatnika menjamin sejumlah 660 orang yang telah dia didik menjadi wirausaha, memiliki kemampuan melahirkan pengusaha baru.
 
”Bambu bersama industri kerajinannya memiliki potensi terpendam jadi pendorong peningkatan ekonomi Indonesia. Saya telah memberi pesan ini kepada instansi terkait, akan tetapi mereka seakan tidak peduli,” papar Djatnika.
 
Djatnika memulai usaha industri kerajinan dan rumah tradisional bambu sejak 1985. Akan tetapi baru fokus kepada pelatihan industri beberapa tahun terakhir. Untuk satu pelatihan, calon wirausahawan yang didiknya maksimal 30 orang.
 
”Mengapa saya menginginkan kelahiran 500 wirausaha baru setiap tahun. Tidak lain sebagai upaya agar hasil karya industri bambu asli Indonesia tidak bisa diakui negara lain. Daripada dicuri orang lain, keahlian ini lebih baik saya salurkan kepada masyarakat kita sendiri.” (sut)
 
Banner_kuesioner_asuransi

TERKAIT

TERBARU

LAINNYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar