Senin, 08 Oktober 2012

Aren dan Prabowo Prabowo Akan Buka Empat Juta Hektare Aren

Aren Indonesia

Aren dan Prabowo

Prabowo Akan Buka Empat Juta Hektare Aren

Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2009/3/10/prabowo-akan-buka-empat-juta-hektare-aren/; 10/03/09 16:53
Jakarta (ANTARA News) – Calon presiden (Capres) dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa, meluncurkan delapan program aksi untuk memakmuran rakyat, termasuk membuka dua juta hektare lahan sawah baru dan empat juta hektare lahan aren.
Delapan program aksi yang diluncurkan meliputi penjadwalan pembayaran utang luar negeri, menyelamatkan kekayaan negara untuk memberantas kemiskinan, melaksanakan ekonomi kerakyatan sesuai Pasal 33 UUD 1945, pemberdayaan pedesaan, memperkuat sektor usaha kecil dan memandirikan pengelolaan dan pemanfaatan energi dan sumber daya alam.
Pembukaan lahan sawah baru dan lahan untuk pohon aren itu merupakan bagian dari program ekonomi kerakyatan. Menurut Prabowo, apabila satu hektare lahan sawah baru menyerap enam tenaga kerja, maka 12 hektare lahan sawah akan menyerap 12 juta orang.
Begitu juga apabila untuk membuka satu hektare lahan aren membutuhkan enam tenaga kerja, maka untuk 4 hektare lahan aren akan mampu menyerap 24 juta tenaga kerja. Hal ini akan sangat penting untuk menyerap tenaga kerja serta memberdayakan petani.
Lahan sawah diarahkan untuk meningkatkan produksi beras nasional, sedangkan pohon aren akan sangat penting untuk kebutuhan ethanol yang bisa diolah menjadi bahan bakar.
Kebutuhan aren di dunia akan terus meningkat sering dengan meningkatnya diversifikasi bahan bakar. Pembukaan lahan aren sedang digencarkan Brazil, Kolombia dan Tanzania.
Di negara-negara tersebut, aren akan menjadi bahan baku utama bahan bakar.
Karena itu, jutaan hektare lahan aren sedang dibuka. “Bibitnya darimana? Dari Minahasa (Sulawesi Utara). Ironis kalau Indonesia mengabaikan perlunya mengembangkan pohon aren,” katanya.
Prabowo mengemukakan, selama 10 tahun terakhir, kemandirian bangsa cenderung menurun. Sektor pertanian yang semestinya menjadi andalan, justru dipinggirkan sehingga berbagai produk pertanian tidak bisa menghasilkan untuk kepentingan masyarakat maupun negara.
Indonesia hanya mampu mengandalkan ekspor produk mentah dan tidak mampu menghasilkan produk olahan. Indonesia sebenarnya produsen coklat dan karet terbesar di dunia. Tetapi pabrik coklat terbesar justru di Singapura dan Malaysia.
“Begitu juga kita kita punya pabrik pengolah karet sehingga harus mengimpor ban kendaraan,” kata Prabowo yang pada saat itu memperkenalkan tim ahlinya, termasuk mantan Dirut Pertamina Widya Purnama dan mantan staf ahli menteri pertanian Dr Rahmat Pambudi.
Prabowo mengemukakan, turunnya kemandirian bangsa selama 10 tahun terakhir menyebabkan tidak adanya akumulasi kekayaan nasional. Sebaliknya, justru terjadi aliran kekayaan ke luar negeri.
“Hal itu mengindikasikan bahwa sebenarnya tidak tercapai kesejahteraan,” katanya.
Terjadinya aliran kekayaan ke luar negeri juga akibat tidak adanya kewajiban bagi perusahaan-perusahaan asing yang mengelola sumber daya alam nasional untuk menyetorkan keuntungan kepada negara.
Padahal perusahaan-perusahaan itu menggunakan infrastruktur, listrik dan membayar tenaga kerja sesuai Upah Minimum Regional (UMR) yang murah.
“Kalau begini, siapapun yang memimpin tidak akan mampu menyejahterakan masyarakat,” katanya yang menambahkan, jika terpilih menjadi presiden maka perubahan sistem ekonomi dari kapitalis dan liberal akan dikembalikan sesuai Pasal 33 UUD 1945.
Dia menyatakan, tidak anti kapitalis apalagi dirinya dan juga kakaknya Hasim Djojohadikoesoemo juga pengusaha nasional. Tetapi mengembalikan sistem ekonomi sesuai konstitusi menjadi tanggungjawab dan tekad untuk segera diwujudkan. (*)

Prabowo Subianto:  Swasembada Energi dengan Pohon Aren

Sumber: RABU, 11 MARET 2009, 14:02 WIB
Prabowo Subianto saat acara ulang tahun partai Gerindra (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis); Indonesia tidak perlu lagi mengimpor 900 ribu barel bahan bakar tiap tahun.
VIVAnews – Prabowo Subianto melihat peluang emas dari budidaya pohon aren. Pasalnya, selain sektor pangan, Prabowo juga akan concern pada swasembada energi terbarukan, seperti pohon aren.
Dia mengatakan, pohon aren bisa menghasilkan kolang-kaling, gula aren, sagu, dan tuak. “Terpenting pohon aren bisa menghasilkan etanol,” kata calon presiden yang diusung partai Gerindra itu.
Prabowo mengatakan itu dalam diskusi Peran Pengusaha Nasional Menghadapi Krisis Global Dalam Merebut Pasar Lokal yang diselenggarakan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Hotel Gran Melia Jakarta, Rabu 11 Maret 2009.
Etanol dikenal bisa mensubstitusi minyak tanah dan bahan bakar. Prabowo
memperkirakan satu hektar lahan pohon aren bisa menghasilkan 20 ton etanol per tahun. “Padahal kita punya 59 juta hektar lahan hutan yang rusak. Kalau bisa ditanami aren diselingi tanaman lain, bisa swasembada energi,” katanya.
Dengan adanya swasembada energi, Prabowo mengatakan, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor 900 ribu barel bahan bakar tiap tahun. Karena, hanya dengan 4 juta hektar pohon aren dapat menghasilkan 80 juta ton etanol tiap tahun. Dengan asumsi satu ton bisa menghasilkan 6 barel, maka 480 juta barel dihasilkan dalam setahun.
Prabowo menjelaskan, dengan adanya swasembada energi, Indonesia tidak perlu lagi impor bahan bakar, bahkan bisa ekspor.
“Dengan asumsi 1 hektar bisa dikerjakan 6 orang, jika ada 4 juta hektar akan
mempekerjakan 24 juta orang,” katanya. • VIVAnews

Prabowo: Indonesia Bisa Swasembada Etanol dari Aren

Oleh: *henri,  11-02-2009 ; http://www.medanbisnisonline.com/2009/
MedanBisnis – Panyabungan
Ketua Umum DPP Partai Gerindra H Probowo Subianto menyatakan, petani di Indonesia akan selalu berada di posisi lemah dan tak mampu bangkit jika kebijakan negara tak diubah secara radikal.
“Sektor pertanian merupakan hal yang sangat dahsyat bagi peningkatan ekonomi masyarakat dan negara jika dikelola dengan baik serta ada keberpihakan yang maksimal pada sektor ini,” kata Prabowo di hadapan para ulama dan ribuan santri di Pondok Pesantren Mustafawiyah Purba Baru, Mandailing Natal, Senin (9/2).
Sebagai contoh kata Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu, aren. Aren mengandung etanol yang bisa menggantikan posisi solar sebagai bahan bakar. Satu hektar pohon aren menghasilkan 20 ton etanol.
Bila luas tanaman aren mencapai 4 juta hektar saja, Indonesia akan mampu menghasilkan 560 juta barrel etanol. Bila sebagian dari sekitar 58 juta hektar hutan rusak di Indonesia ditanami pohon aren, maka Indonesia akan menjadi negara pengekspor etanol.
”Orang Eropa dan Afrika sudah datang ke Indonesia mencari bibit aren. Kalau sempat negara lain mengembangkan tanaman aren di negara mereka, kita akan gigit jari. Jangan negara lain menjual hasil aren kepada kita.
Swasembada aren sama dengan swasembada energi. Itu bisa,” ujarnya.
Itu kata Prabowo hanya salah satu contoh bila potensi alam dikelola dengan serius. Indonesia katanya merupakan negara yang kaya sumber daya alam. Seperti mukjizat dari Tuhan. “Saya sudah bertemu dengan banyak pemimpin negara-negara di berbagai dunia, meraka berdecak kagum menyaksikan kekayaan alam kita. Tapi rakyatnya tetap miskin,” sebut Prabowo
Keterpurukan petani selama ini, kata Prabowo akibat sistem yang salah. Sistem kapitalis dan neoliberal harus diganti dengan sistem ekonomi kerakyatan. ”Neoribelaisme itu jangan dipertahankan lagi. Kita harus kembali ke ekonomi kerakyatan,” katanya.
Pada sistem ekonomi kerakyatan ini serta kebijakan-kebijakan negara nantinya, para petani harus berada pada posisi ujung tombak. Pemerintah tak boleh malu-malu untuk menjalankan sitem ekonomi kerakyatan. ”Bila panen tiba, harga pertanian akan turun, saat musim tanam tiba pupuk jadi langka. Serahkan kepada petani, jangan kepada pasar,” ujar Prabowo.

Potensi Pengembangan Pohon Aren Di Indonesia (solusi permasalahan kemandirian energi dan lingkungan)

Sumber: http://perubahanuntukrakyat.com/2009/03/11/potensi-pengembangan-pohon-aren-di-indonesia-solusi-permasalahan-kemandirian-energi-dan-lingkungan/
Program bagi-bagi uang yang digagas pemerintah sekarang tidak akan menyelesaikan masalah. Habis uang, kemiskinan tetap akan ada. Di sisi lain kita punya hutan yang menjadi paru-paru dunia, yang harus kita selamatkan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, kami menawarkan gagasan pengembangan budi daya aren di Indonesia. Pohon Aren ini adalah sumber energi yang sangat menjanjikan. Aren ini dapat menghasilkan bermacam produk, yang ujungnya dapat dijadikan bahan bakar, etanol. Hebatnya, Pohon ini akan lebih bagus pertumbuhannya jika ditanam diantara pohon-pohon yang lain. Selain itu juga aren ini bisa menahan erosi, menambah subur tanah, mengendapkan air lebih banyak, dan menghasilkan bio etanol.
Aren merupakan tanaman yang sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia dengan produk utama berupa gula merah. Aren memiliki berbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan (Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain.
Aren dapat tumbuh di daerah tropis dengan baik, namun hingga saat ini pengembangan potensi Aren di Indonesia masih sangat minim, hal ini ditunjukkan dengan minimnya teknologi pengolahan Aren, minimnya lahan Aren, produk turunan yang belum berkembang dan belum banyaknya pengelolaan Aren secara Industri di Indonesia.
Nira aren di beberapa daerah selain sebagai bahan pemanis, melalui proses fermentasi, Nira diubah menjadi minuman beralkohol yang dikenal dengan nama tuak. Alkohol yang dihasilkan secara ilmiah dikenal dengan nama Etanol (Bioetanol), Nira dapat diubah menjadi bioetanol dengan bantuan fermentasi oleh bakteri ragi (Saccharomyces cereviseae) dimana kandungan gula (sukrosa) pada nira dikonversi menjadi glukosa kemudian menjadi etanol.
Nira Aren memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan baku bioetanol lainnya seperti singkong dan jagung (tanaman penghasil pati) dikarenakan tahap yang dilakukan cukup satu tahap saja yaitu tahap fermentasi, sedangkan bioetanol yang berasal dari tumbuhan berpati memerlukan tahap hidrolisis ringan (sakarifikasi) untuk merubah polimer pati menjadi gula sederhana.
Aren memiliki kelebihan dibandingkan dengan tebu, dimana pohon aren lebih produktif menghasilkan nira dibandingkan dengan tebu dimana produktivitasnya bisa 4-8 kali dibandingkan tebu dan rendemen gulanya 12%, sedangkan tebu rata-rata hanya 7% .
Rata-rata produksi nira aren ialah sebesar 10 liter nira/hari/pohon bahkan pada masa suburnya untuk beberapa jenis pohon Aren (Aren Genjah) satu pohon perhari dapat menghasilkan nira aren sebesar 40 liter, dengan kalkulasi sederhana jika dalam satu hektar dapat tumbuh 200 pohon Aren dan tiap harinya disadap 100 pohon maka dalam satu hari dapat menghasilkan nira aren sebesar 1000 liter/ha/hari dengan rule of thumb konversi glukosa menjadi ethanol sebesar 0,51 g ethanol/g glukosa maka dalam satu hari bioethanol perhektar yang dapat diperoleh ialah 500 liter/hari.
Dari segi penumbuhan tanaman aren tidak tidak membutuhkan pupuk untuk tumbuh sehingga Aren dapat bebas dari pestisida dan lebih ramah lingkungan, selain itu Aren dapat ditanam di daerah lereng atau perbukitan serta tahan penyakit sehingga dibandingkan dengan Tebu pengelolaan Aren jauh lebih mudah. Tanaman aren juga lebih efektif jika ditanam secara tumpang sari. Dengan metode penanaman tersebut, petani aren juga dapat menikmati penghasilan tambahan dari tanaman tumpang sari lainnya. Tumpang sari juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan konservasi terhadap berbagai jenis tumbuhan di hutan Indonesia.
Bahan Bakar Nabati yang dihasilkan aren seperti kita ketahui merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan, hal ini disebabkan emisi yang dikeluarkan khususnya emisi karbon sangatlah rendah, sehingga secara langsung dapat menjaga lingkungan sekitar pengguna bahan bakar dan secara tidak langsung dapat mengurangi efek dari pemanasan global (Perubahan iklim).
Selain itu pohon Aren merupakan pohon berdaun hijau, sehingga dengan menanam Aren, kita ikut serta dalam menumbuhkan paru-paru dunia dan mengurangi atau mencegah pemanasan global akibat emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas di bumi melalui proses fotosintesis. Dengan kondisi lingkungan yang semakin baik, kita dapat menyediakan masa depan lebih baik bagi anak-anak kita.
Pengembangan aren juga dapat menimbulkan multiplier effect dalam hal penyerapan tenaga kerja. Satu hektare perkebunan aren akan menyerap tenaga kerja sebanyak 6 orang. Jika kita membuka 4 juta Hektare perkebunan aren, maka kita dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi 24 juta orang. Belum lagi jika jumlah tersebut ditambah dengan tenaga kerja yang dibutuhkan pada industri pengolahan hingga ke pemasaran. Dengan terbukanya lapangan kerja, para ayah akan mampu menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ini Dia Konsep Prabowonomics

Heri Susanto, Jum’at, 13 Maret 2009, 14:15 WIB
Sumber: http://bisnis.vivanews.com/print_detail/printing/40377-ini_dia_konsep_prabowonomics
VIVAnews – Konsep pemikiran pembangunan ekonomi yang diusung Prabowo Subianto menarik perhatian sejumlah kalangan. Bahkan, kalangan ekonom UI mengkritik tajam konsep Prabowonomics yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 10 persen per tahun.
“Saya rasa itu terlalu ambisius. Sangat ambisius. Dia (Prabowo) tidak mengerti permasalahan,” kata ekonom UI, M Ikhsan di Jakarta, Jumat, 14 Maret 2009. Dia juga tak sepakat Indonesia dianggap bakal seperti Rwanda. Menurut Ikhsan, Indonesia tergolong 15 negara yang bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen selama lebih 30 tahun.
Lantas, bagaimana sesungguhnya konsep Prabowonomics dan cara mencapainya?
Dalam bukunya “Membangun Kembali Indonesia Raya Haluan Baru Menuju Kemakmuran.” yang diluncurkan Kamis, 13 Maret 2009, Prabowo mengungkapkan konsep dan strategi yang akan dijalankannya.
Buku itu berisi tujuh bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, landasan pemikiran. Ketiga, kondisi. Keempat, permasalahan dan tantangan utama. Kelima, kebijakan dasar. Keenam, strategi pembangunan nasional. Ketujuh, program prioritas.
Soal kebijakan dasar mencakup tiga bagian penting, yakni kebijakan dorongan atau terobosan besar, kebijakan optimalisasi sumber daya dan kebijakan menekan kebocoran.
Kebijakan terobosan besar yang dilakukan adalah mencari inovasi pembiayaan untuk meningkatkan investasi pembangunan. Caranya, penjadwalan utang luar negeri dan penyertaan modal pemerintah baik melalui dana APBN atau Bank Indonesia melalui BUMN untuk program prioritas, serta kewajiban pemakaian bahan bakar nabati di atas 10 persen.
Kebijakan optimalisasi sumber daya dengan cara mengerahkan seluruh sumber daya yang ada, baik lahan, laut, sumber alam, mineral, modal dan jumlah penduduk yang besar. Kebijakan moneter dan fiskal diarahkan untuk mendukung sektor pertanian dalam arti luas.
Kebijakan menekan kebocoran dan inefisiensi ekonomi. Misalnya, dengan menekan kebocoran penerimaan devisa ekspor dengan cara kewajiban mencatatkan dan kewajiban menyimpan devisa di perbankan domestik.
Strategi pembangunan nasional mencakup strategi pokok, utama dan pendukung yang menjadi satu kesatuan utama. Strategi pokok mencakup upaya mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, berkesinambungan dan keadilan. Indonesia perlu pertumbuhan minimal 10 persen per tahun agar bisa naik kelas menjadi negara dengan pendapatan US$ 3.706 per kapita.
Strategi utama yang akan ditempuh adalah membangun kedaulatan pangan dan energi nasional, mengembangkan industri nasional yang unggul, memberdayakan BUMN sebagai motor utama pembangunan, membangun ekonomi kerakyatan yang berdasarkan nasionalisme dan berbasis sumber daya, akselerasi pembangunan desa, percepatan pembangunan infrastruktur dan membangun kembali kedaulatan sumber daya alam nasional.
Di sini, BUMN yang memiliki aset Rp 1.500 triliun bisa dioptimalkan sebagai motor ekonomi. Kedaulatan energi dilakukan dengan mengembangkan bioeneri atau Ethanol berbasis singkong. Soal kedaulatan sumber daya alam, masih banyak sumber daya yang bisa diredistribusi untuk dikerjakan oleh rakyat.
Selain itu, Prabowo juga menyiapkan program prioritas. Program pangan prioritas adalah peningkatan lahan sawah baru 2 juta hektare, penambahan lahan jagung satu juga hektare, pembangunan pabrik pupuk urea, pembangunan pabrik baru pupuk NPK, peningkatan pasokan bahan baku gas untuk pabrik pupuk, serta percepatan perbaikan infrastruktur pertanian dan pedesaan.
Program energi proritas adalah akselerasi produksi bioethanol dari singkong, pengembangan perkebunan aren untuk produksi bioethanol, akselerasi pembangunan pabrik bioethanol dari singkong, pembangunan pembangkit listrik tenaga geothermal, serta pembangunan kilang minyah mentah.
Sedangkan, program prioritas pengembangan industri unggul dan bernilai tambah adalah pengembangan penyulingan dan pengolahan tembaga, nikel dan alumunium serta membangun industri hilir berbasis pangan dan energi.
www.vivanews.com

3 Comments »

  1. saya sangat setuju kalu Pak Prabowo mengembangkan budi daya aren untuk kemekmuran bangsa terutama para petani seluruh Indonesia .SALUTE PRABOWO
    Comment by DWI AGUSTINUS PELEALU — April 9, 2011 @ 6:00 pm
  2. saya atas nama jalias djafar dari sulawesi barat(wonomulyo) senang dengan adanya budi daya pohon aren dan sejak awal 2011.kami
    telah membibit poihon aren sebanyak 2000 pohon dan siap tanam pada bulan nopember 2011 kepetani dan kami bagikan secara geratis kepetanih
    Comment by jalias djafar (wonomulyo)SULBAR — July 19, 2011 @ 7:18 pm
  3. mohon informasi bagaimana cara memperoleh bibit aren unggul. saya sangat serius ingin mengembangkan kebun aren di daerah saya di bengkulu. terimakasih
    Comment by Rizal Gustriwana — October 24, 2011 @ 1:09 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

1 komentar:

  1. Kalau mau mengembangkan sumber energi ramah lingkungan, solar panel jauh lebih efektif. Efeknya langsung dan tersedia lahan luas yang bisa dimanfaatkan. Tanah untuk bahan pangan, atap untuk bahan bakar-penggunaan lahan lebih efektif dan kerusakan lingkungan lebih kecil.
    Budidaya monokultur (penanaman satu jenis tanaman yang menimbulkan kebun homogen) kerusakan lingkungannya besar sekali, secara ekonomi memang baik tapi secara ekologi sebaiknya dihindari.

    BalasHapus