Senin, 08 Oktober 2012

Presiden Resmikan Pabrik Gula Aren Pertama di Dunia

Aren Indonesia

Berita 2007

Januari 2007

Presiden Resmikan Pabrik Gula Aren Pertama di Dunia

Laporan Wartawan Kompas Suhartono;  Minggu, 14 Januari 2007 – 18:39 wib
Sumber:  http://www2.kompas.com/
sby_res_ga
Presiden SBY saat menandatangani prasasti proyek yang diresmikan. (foto: dako)
MANADO, KOMPAS – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu (14/1) meresmikan Pabrik Gula Aren Kristal Masarang di Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Manado, Sulawesi Utara. Pabrik seluas 2.200 meter2 di areal 7.000 meter2, yang melakukan ekspor perdana ke Rotterdam, Belanda 12,5 ton gula aren itu, disebut-sebut sebagai pabrik gula aren kristal pertama di Indonesia, bahkan di dunia.
Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono saat memberikan sambutan di acara peresmian pabrik dan ekspor perdana Pabrik Gula Aren Masarang di Kelurahan Tondangow, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Manado. Pabrik ini dimiliki Yayasan Masarang, dengan Ketua-nya Willy Smith, seorang warga Belanda yang telah menikah dengan wanita Indonesia.
Hadir dalam kesempatan itu Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Gubernur Sulut SH Sarundajang, dan Duta Besar Belanda di Indonesia Nicolaus Van Dam, serta Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar. Seusai peresmian, Presiden menyempatkan diri berdialog dengan 4.000 petani gula aren Tomohon.
“Pabrik gula aren ini selain dapat menambah produksi gulan secara nasional, juga dapat menambah devisa negara dan mencipatkan lapangan kerja baru, serta memberdayakan petani gula aren serta membangkit pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, pabrik gula aren ini harus dikelola dengan baik dan dikembangkan lagi di sejumlah wilayah lainnya,” kata Presiden.
Menurut Presiden, pabrik gula aren ini merupakan simpul baru bagi pertumbuhan ekonomi di sebuah wilayah. “Saya mendukung dan pemerintah mendorong pabrik gula aren ini menjadi industri gula aren di tempat-tempat lainnya, agar menjadi andalan,” tambah Presiden.
Aburizal Bakrie dalam sambutannya menyatakan, menyusul berdirinya pabrik gula aren Masarang ini, pemerintah juga mendorong berdirinya 10 pabrik gula aren baru di wilayah lainnya. “Karena bahan bakunya banyak tersedia sehingga bisa membuka peluang pendapatan baru petani dan juga pengusaha,” tandas Aburizal.
Pabrik yang dibangun dengan investasi senilai Rp 8,6 miliar lebih, dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 38 orang. Kapasitas produksi diperkirakan kurang lebih 1 ton per hari. Pabrik ini menggunakan bahan baku nira yang dihasilkan dari pohon enau, yang banyak tumbuh di Manado dan wilayah Indonesia lainnya. Pendirian dan teknologi pabrik ini dibantu oleh mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih.
Dalam kesempatan itu, secara simbolis Presiden juga meresmikan empat proyek lainnya, yaitu Studio Televisi TV 5 Dimensi milik Kota Tomohon dengan investasi Rp 3 miliar, Depot logistik Pulau Miangas, Kabupaten Sangihe dengan investasi Rp 666 juta, sebagai gudang perbekalan bahan pokok pada daerah perbatasan Indonesia-Filipina. Juga Depot logistik Pulau Marore, Kabupaten Talaud, dengan investasi Rp 663 juta sebagai gudang perbekalan bahan pokok juga pada wilayah perbatasan.
Sebelumnya, seusai mendengar paparan Gubernur Sulut setibanya dari Cebu, Filipina, Presiden Yudhoyono menyatakan mendukung sepenuhnya rencana pelaksanaan pertemuan internasiona kepala-kepala negara yang mempunyai wilayah laut dan pantai atau World Ocean Summit (WOS) 2009 di Manado.

Presiden SBY Resmikan Pabrik Gula Aren Masarang

Sumber: http://www.tomohononline.com/ Selasa, 16 Januari 2007
Tondangow – Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari Minggu (14/01/07), meresmikan pabrik gula aren di Desa Tondangow, Tomohon Selatan. Pabrik yang didirikan oleh Yayasan Masarang di bawah pimpinan Syennie Watoelangkow dan suaminya Dr. Ir. Willie Smith ini dibangun dengan anggaran Rp. 8 Miliar lebih. Pabrik ini mengolah air nira (saguer dalam bahasa Manado) yang berasal dari pohon Enau (Pohon Seho dalam bahasa Manado) menjadi gula aren.
sby_mas
Presiden SBY melambaikan tangan ke arah warga yang antusias ingin melihat secara langsung presidennya.(foto: dako)
Acara peresmian diawali dengan sambutan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Drs. Sinyo H. Sarundajang dan Menko Kesra, Ir. Aburizal Bakrie. Presiden SBY sendiri dalam sambutannya mengatakan bahwa ia sangat menghargai berdirinya pabrik gula aren di Tomohon ini. Sebab dengan beroperasinya pabrik ini berarti membuka lapangan pekerjaan, sekaligus dapat meningkatkan penghasilan para petani. Dan pada gilirannya akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Tomohon.
“Atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia, saya mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Masarang, Walikota Tomohon, Gubernur Sulawesi Utara dan Menteri Pertanian yang telah bahu membahu untuk mendirikan pabrik gula aren ini,” ujar Presiden SBY.
Dalam kesempatan ini juga, Presiden SBY melepas ekspor perdana gula aren ke Belanda.
Selain meresmikan pabrik gula aren, Presiden SBY yang datang bersama Ibu Ani Yudhoyono, juga meresmikan beroperasinya TV5 Dimensi Tomohon, Depot Logistik di Marore dan Miangas.
Usai acara peresmian, Presiden berdialog dengan para petani aren di Tomohon. Total petani aren berjumlah sekitar 4000 orang yang terbagi dalam 350 kelompok tani. (joudy)

Pertamina Pasok Uap Panas Bumi untuk Pabrik Gula Aren Masarang

Sumber: MEDIA PERTAMINA, Edition No. 4/XLIII , 22 Januari 2007;  http://www.pertamina.com/
Pertamina Area Geothermal Lahendong memasok uap panas bumi secara cuma-cuma untuk industri pabrik gula aren Masarang di Tomohon, Sulawesi Utara. Pasokan ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina terhadap pertumbuhan ekonomi dan memberikan dampak peningkatan kesejahteraan dan menurunkan angka pengangguran di sekitar area operasi.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono menegaskan bahwa Pertamina memasok uap sebesar 4 ton per jam. ?Ini merupakan community development Pertamina,? ujarnya kepada redaksi BP di Lahendong, Minggu (14/1).
Bambang Kustono menegaskan energi panas bumi tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Ia menjelaskan bahwa saat ini sudah mulai dilaksanakan pemanfaatan panas bumi untuk pemakaian langsung seperti pengeringan gula aren dan yang sedang dikembangkan adalah untuk mengeringkan kopra.
Pabrik Gula Aren yang dikelola yayasan Masarang diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Tomohon Sulawesi Utara, Minggu (14/1). Pabrik ini merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama yang menggunakan energi panas bumi di dunia.
Pada kesempatan tersebut Presiden menegaskan agar semua pihak mendukung upaya mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli rakyat, dan membangun kembali ekonomi Indonesia. Pada kesempatan yang sama diluncurkan ekspor produk gula aren perdana ke Amsterdam dengan jumlah 12,6 ton. Harga jual gula aren diperkirakan mencapai 96 ribu rupiah per kilogram.
Pabrik ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Tetapi saat ini baru beroperasi satu ton per hari dengan 35 orang pekerja yang bekerja satu shift. Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan ke depan dimungkinkan untuk beroperasi penuh dalam tiga shift kerja.
PELESTARIAN ALAM
Direktur Pabrik Gula Aren Masarang Albert K Mait mengatakan bahwa pabrik ini dapat didirikan karena ada akses kerjasama dengan Pertamina untuk pasokan uap panas bumi. Keuntungan dari pemanfaatan panas bumi yang dipasok Pertamina, pabrik tersebut dapat menghemat bahan bakar yang sangat besar dan membantu pelestarian lingkungan.
Menurutnya, untuk proses selama satu jam jika dilakukan secara tradisional bisa menghabiskan 20 kilogram kayu bakar. Apalagi jika dikalikan sebanyak 3.500 petani anggota kami yang melakukan kegiatan tersebut secara serentak maka kayu bakar yang dibutuhkan bisa mencapai 7.000 kilogram per hari dan ini berpotensi merusak lingkungan.
?Kita mensyukuri panas bumi dari Pertamina bisa membantu petani di Tomohon,? ujarnya.
Sebelum ada pabrik, masyarakat biasanya menjual aren hasil sadapan ke para pembeli namun tidak memiliki kepastian berapa jumlah yang akan dibeli. Sekarang, berapapun jumlah liter aren yang dihasilkan akan dibeli oleh pabrik. Sehingga timbul kecenderungan petani akan berlomba untuk menanam pohon aren karena telah terbukti hasilnya.
Produk samping dari pemrosesan gula aren di pabrik ini adalah ethanol yang kadarnya mencapai 70 persen dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti BBM.
PENGEMBANGAN POTENSI PANAS BUMI
Potensi panas bumi Indonesia mencapai 27 ribu MW. Saat ini Pertamina mengoperasikan tiga area panas bumi di Sibayak, Kamojang, dan Lahendong yang total kapasitas terpasang mencapai 162 MW.
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Bambang Kustono dalam kesempatan tersebut menegaskan ke depan di Lahendong akan dikembangkan sebesar 40 MW. Selain itu juga akan dilakukan pengeboran eksplorasi di Kotamubagu dan Tompaso di Sulawesi Tenggara.
Untuk mendukung pengembangan energi panas bumi di Indonesia, dibutuhkan adanya dukungan regulasi dan kebijakan pemerintah sehingga perkembangan bisnis ini bisa berjalan lebih cepat.

Februari 2007

Sumut Kembangkan Gula Aren Rakyat

Sumber: Kompas, Jumat, 02 Februari 2007; http://www2.kompas.com/

Dinas Perkebunan Sumatera Utara segera mengembangkan gula aren rakyat menyusul diterimanya dana bantuan dari pemerintah pusat senilai Rp 9,5 miliar bulan lalu. Dana itu akan digunakan untuk pembangunan delapan paket pengolahan gula aren menjadi gula semut atau brown sugar.
“Kalau disetujui pemerintah pusat, delapan paket bantuan itu akan kami jadikan dua sentra pengolahan aren, yakni di Karo dan Tapsel. Sementara ini kami masih menunggu juklak dari pemerintah pusat,” kata Batara.
Batara memilih Kabupaten Karo dan Tapanuli Selatan sebagai sentra pengolahan aren mengingat kawasan itu merupakan produsen aren terbesar di Sumut. “Kapasitas masing-masing mesin sangat besar. Jika ditempatkan di daerah lain, dikhawatirkan tidak bisa digunakan dengan maksimal,” kata Batara.
Selama ini baru 10 persen nira tanaman aren di Sumut yang diolah menjadi gula merah. Sebagian masih diproduksi untuk diolah menjadi tuak. Selain karena faktor budaya, petani lebih mudah memproduksi tuak dibandingkan memproduksi gula aren. Meskipun harga gula aren mencapai 14.000 per kilogram, pengolahannya relatif sulit. Tuak juga gampang diperjualbelikan.
Mesin bantuan itu direncanakan dikelola kelompok petani supaya petani bisa langsung memproduksi gula semut yang kini banyak diminati, terutama di hotel berbintang. Permintaan gula semut tinggi, karena kadar sukrosa dalam gula merah relatif lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir.
Tiap tahun Sumatera Utara mampu memproduksi 2.708 ton gula aren dari lahan sekitar 4.400 hektar. Produktivitas gula mencapai 777 kilogram per hektar, per tahun, dengan jumlah petani aren mencapai 25.078 keluarga. Tanaman ini mudah tumbuh dan dikembangkan warga. “Angka yang ada itu baru 10 persen dari potensi yang ada di Sumut,” ungkap Batara.
Menurut Badan Pusat Statistik, selain dua daerah itu, penghasil aren terbesar di Sumut antara lain Simalungun, Mandailing Natal, dan Deli Serdang. (wsi)

Maret 2007

Yayasan Nurul Ilmi Tertarik Budidaya Aren

Sumber: http://www.dprdkutaikartanegara.go.id/12/03/2007 09:55 WITA
audiensi YNI dan Smits
Dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru mencapai kurang lebih Rp48 Milyar, kondisi perekonomian Kutai Karatanegara memang rentan dan beresiko. Keuangan selama ini hanya ditopang oleh bagi hasil migas antara Pusat dan Daerah, padahal cadangan gas bumi akan mencapai posisi kritis sekitar 15 tahun ke depan, tanpa kesiapan dan program unggulan tentu akan menjadi daerah yang terhempas peekonomiannya apabila prakiraan ini menjadi kenyataan.
Terkait dengan itu Yayasan Nurul Ilmi, yang bergerak dibidang pendidikan dan pemberdayaan, melakukan penjajagan bersama Yayasan Masarang yang diketuai Dr Ir Willie Smits di Samboja belum lama ini. Mereka mencari gambaran komiditi apa yang cocok untuk menopang kegiatan ekonomi, di tengah upaya mencerdaskan generasi muda.
Pembina Yayasan, Saiful Aduar SPd, yang juga Sekretaris Komisi I dalam pertemuan itu kepada Willie Smits menjelaskan, pihaknya ingin mencari dukungan dan kerjasama dibidang pemberdayaan pendidikan, guna meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah, sehingga tercipta mutu pendidikan prima ditopang potensi ekonomi yang kuat.
lahan nurul ilmi
Niat Nurul Ilmi segera saja disambut hangat oleh Willie, laki-laki berdarah Belanda ini menjelaskan, sejalan dengan bidang yang digelutinya selama 25 tahun ini dan statusnya sekarang sebagau staf ahli presiden, solusi bagi Kutai adalah penggalakan tanaman aren.
Hal itu sejalan dengan rencana kerja sama Yayasan Masarang dengan Pemkab, untuk membangun pabrik gula merah modern, seperti yang telah ada di Tomohon Sulawesi Utara. Saat ini ada 6 ribu petani aren setempat yang telah menikmati keberadaan pabrik, dengan penghasilan mencapai Rp6 ribu rupiah perhari setiap orangnya.
Kelebihan komoditi aren adalah kandungan Nira yang dapat menghasilkan gula sehat, dan mampu mencegah penyakit seperti kencing manis, asam urat dan obesitas. Bahkan berdasarkan penelitiannya selama 25 tahun di Kabupaten Minahasa, angka harapan hidup warga setempat yang mengkonsumsi gula merah meningkat hingga 12 tahun.
Produk semacam ini sangat baik di pasaran eropa, sehingga memberikan peningkatan kesejahteraan warga, serta mengurangi kerusakan hutan akibat perambahan dan penebangan liar yang motif utamanya rata-rata memang persoalan ekonomi.
Bahkan jika dibandingkan dengan sawitpun, Aren tetap jauh lebih untung, karena tidak perlu membabat hutan, serta nilai ekonomis yang lebih tinggi karena efisiensinya. Apalagi dengan pabrik pengolahan moderen, akan menghasilkan perbaikan lingkungan karena bahan bakarnya adalah limbah sisa olahan kayu yang banyak teronggok sia-sia di tepai Sungai Mahakam.
Berdasarkan keterangan itu, Saiful Aduar yang didampingi Ketua dan Pengurus Yayasan, Sunarno SPd dan Ilwansyah, mengaku tertarik. Pihaknya akan mencoba melakukan penjajagan lebih lanjut serta melakukan pengkajian lahan, apakah cukup memungkinkan untuk penanaman Aren dalam jumlah cukup besar.
Meski berbasis utama pendidikan namun potensi ekonomi semacam ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Pasalnya Nurul Ilmi yang bergerak di padanan Sekolah Islam Terpadu dan Jaringan Sekolah Islam Terpadi (JSIT), sangat respon terhadap upaya-upaya pemberdayaan SDM dan kemandirian ekonomi.
Saiful menegaskan, apabila ada sebuah jalan untuk mandiri secara ekonomi dan memberikan nilai positif kepada masyarakat sekitar, kenapa tidak dilakukan upaya penjajagan. Tidak mungkin tentunya apabila setiap yayasan hanya mengharapkan dana iuran murid dan pemerintah saja dalam beroperasi.
“Kita akan melakukan penjajagan terhadap kemungkinan penanaman aren, dilahan-lahan yayasan. Pada dasarnya saat ini kami sangat tertarik,” kata Saiful. (rin)

Aren Untuk Masa Depan Kutai Kartanegara

Sumber: dprdkutaikartanegara.go.id – 12/03/2007 ; http://www.dprdkutaikartanegara.go.id/bacawarta.php?id=786
Dr Ir Willie Smits
Dr Ir Willie Smits Ketua Gerakan Aren Indonesia Photo: sahrin
Hampir semua masyarakat asli Kutai Kartanegara, mengenal dengan baik tumbuhan Aren, biasanya dipanggil dengan bahasa lokal, yaitu Puhun Benda. Bernama ilmiah Arenga pinnatae dan masuk dalam famili Arecaceae (Palmae), banyak dimanfaatkan penduduk untuk membuat sapu ijuk, gula merah, tuak dan cuka, serta kadang-kadang dimanfaatkan sagunya sebagai penganan alternatif.
Meskipun telah lama dikenal sebagai tumbuhan produktif, namun belum ada upaya nyata ke arah pelestariannya. Demikian pula masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat gula merah, meskipun jumlahnya cukup banyak, tetapi masih mengandalkan pada Aren yang tumbuh secara alami, belum terpikirkan untuk melakukan penanaman secara langsung, ataupun penyeleksian bibit.
Padahal tumbuhan yang seringkali dipandang sebelah mata ini, ternyata menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa jika digarap secara optimal. Nira ( Air Aren) tidak hanya dapat diolah menjadi gula merah untuk pasaran lokal saja, tetapi bernilai lebih jika diolah dengan pabrik modern, sehingga mampu menjadi komoditas eskspor unggulan non migas.
tananman aren
Pohon Aren Merupakan Komiditi Andalan Masa Depan Photo: sahrin
Seperti diungkapkan Dr Ir Willie Smits Staf Ahli Presiden Bidang Pengembangan Aren Nasional. Bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi solusi Kutai di masa datang dan merupakan masa depan andalan dalam masalah keuangan daerah.
Berbicara kepada Saiful Aduar SPd Anggota DPRD Kutai Kartanegara, di Kantor Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS), di Kecamatan Samboja Jumat (9/3) lalu. Pria ramah itu menegaskan, ada banyak keunggulan Aren jika dibanding dengan tanaman pilihan lainnya, seperti sawit yang selama ini menjadi program andalan.
Tidak seperti sawit yang harus disediakan lahan lapang dengan luas ratusan hingga ribuan hektar, Aren hanya perlu disediakan lahan pekarangan, ataupun kebun saja, sifatnya yang selalu survive dalam tumbuh, akhirnya menunjang dengan baik untuk perbaikan lahan-lahan kritis.
Bahkan pohon yang dapat mencapai tinggi hingga 25 meter tersebut, dapat menjadi solusi bagi lereng-lereng perbukitan rawan longsor, dengan akar serabut yang dapat mencengkram tanah hingga kedalaman 6 meter, aren kokoh berdiri di kawasan yang belum kta bayangkan.
Berdasarkan penelitian yang berulang kali dilakukan, kawasan Tenggarong hingga Ulu Mahakam sangat cocok untuk pengembangannya. Karena itu Pembina Yayasan BOS tersebut berencana akan membangun sebuah pabrik pengolahan gula aren di Kukar. Rencananya pabrik akan dibangun secara terapung, sehingga dapat bergerak mengikuti pasokan nira petani serta ketersediaan bahan pabrik.
Khusus untuk bahan bakar pabrik, Willie telah memiliki konsep di Kukar, yakni dengan menggunakan sisa-sisa sampah organik kayu, yakni serbuk gergaji dari ratusan bekas sawmill yang telah berhenti operasi, di tepi Sungai Mahakam.
Dengan cara demikian bukan hanya kebutuhan bahan bakar pabrik dapat dipertahankan, tetapi juga menyelematkan Aliran Sungai Mahakam dari pencemaran, akibat limbah gergaji kayu tersebut. Upaya itu juga akan mendapatkan perhatian internasional, bahkan akan diberikan reward lantaran telah bekerja secara ramah lingkungan.
Guna mendapatkan Nira yang bermutu tinggi, masyarakat penyadap Aren akan diberikan pelatihan bagaimana cara penyadapan yang baik. Sebagai bagian dari layanan pabrik, akan dikerahkan unit-unit mobil dan kapal tangki untuk menjemput nira-nira para petani di titik- titik point yang telah ditentukan.
Sebagai prediksi awal berdasarkan ketersediaan pohon aren, dan sentra-sentra pengolahan gula merah tradisional, Willie memprediksi pembukaan pabrik jika terealisasi akan membuka 10 ribu lapanga tenaga kerja baru, dan akan menghidupi ribuan orang lainnya.
Hal itu didasarkan pada pengalaman di Tomohon Sulawesi Utara. Di daerah itu telah berdiri sebuah pabrik moderen pengolahan gula aren. Jenis-jenis gula yang dihasilkan beragam, ada gula semut, gula kristal dan gula batangan yang sama dengan gula merah tradisional, tetapi hasil produksinya bersih, sesuai standar masyarakat ekonomi eropa.
Operasional di bawah panji Yayasan Masarang, beberapa tahun lalu, pabrik tersebut kini telah memproduksi 3 ton gula merah perhari, dengan jumlah tenaga kerja mencapai 6 ribu orang, dan penghasilan perorang sebesar Rp60 ribu setiap hari, itupun belum termasuk bagi keuntungan sebesar 1 persen dari perusahaan kepada anggota setiap tahunnya.
Menurut Willie pasaran gula aren ini, sekali operasional dan berjalan tidak pernah ada ruginya. Hal itu karena permintaan pasar eropa sangat tinggi, terutama gula semut harga jual di negara-negara eropa dapat mencapai Rp90 ribu ke atas, dan harga gula kristal Rp20 ribu perkilogram.
Jika dikaitkan dengan Gerakan Pembangunan dan Pemberdayaan Kutai Kartanegara (Gerbang Dayaku), maka optimalisasi aren ini sejalan dan merupakan kunci sukses di masa datang. Apalagi hingga saat ini Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya berkisar puluhan milyar saja, tentu tidak akan merugi apabila mampu melakukan ekspor gula aren ke luar negeri. (rin)

April 2007

Pngembangan Nira Aren Sebagai Bahan Baku Komoditi Ekspor dan BBN Alternatif di Daerah

Sumber: http://ristek.go.id/; Senin,30 April 2007 15:09
30042007150906
Bahwasanya kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilimpahi kekayaan Nabati yang luar biasa, salah satunya adalah tumbuh suburnya tanaman Aren, Nipah, Lontar dan Kelapa di perbagai pelosok nusantara, yang kita ketahui dapat memberikan Nira yang mengandung gula (Sukrosa), dimana secara tradisional Nira dimanfaatkan masyarakat untuk membuat gula tradisional dan banyak disalahgunakan menjadi minuman keras berkadar alkohol tinggi melalui proses fermentasi dan distilasi sederhana.
Melalui pemanfaatan Iptek, peneliti Universitas Sam Ratulangi, bersama-sama ± 3000 petani Nira Aren dan didukung sebuah LSM di Tomohon, Sulawesi Utara berhasil memanfaatkan Nira Aren sebagai komoditi unggulan daerah berkualitas ekspor kristal gula semut 3,5 ton/hari ke Eropa, dan dengan fasilitasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi sedang mengembangkan peralatan proses pemanfaatan sisa molases menjadi bioethanol 85 % yang akan kemudian dikembangkan menjadi FGE (Fuel Grade Ethanol) sebagai bahan bakar nabati.
Produktifitas Nira Aren sepanjang tahun rata-rata 25 liter/hari/pohon memiliki kadar gula 12 % dengan potensi bioetanol murni 1,5 liter/pohon/hari maka dalam satu tahun dapat diperoleh bioetanol murni (fuel grade ethanol FGE) 547 liter FGE/tahun/pohon. Kabupaten Minahasa Selatan merupakan sentra aren terbesar diperkirakan mempunyai ± 2 juta pohon diperhitungkan dapat menghasilkan ± 8.000.000 liter bioetanol sulingan tradisional berkadar ± 35 % dan dimanfaatkan secara seimbang sebagai bahan baku gula merah aren, pada saat ini diperkirakan 50 % potensi aren belum termanfaatkan secara optimal.
Deputi Program Riptek DR Bambang Setiadi didampingi peneliti Nira Aren DR Julius Pontoh dari UNSRAT berkenan meninjau peralatan Iptek yang sedang dalam pengembangan dimanfaatkan di pabrik gula Masarang Tomohon pada tanggal 25 April 2007 disertai Asdep Program Tekno Ekonomi Hari Purwanto (yang sedang melakukan kajian tekno ekonomi potensi Nira Aren Nasional) telah melakukan diskusi berbagai topik diantaranya BBN, pemanfaatan CDM pemanfaatan Geothermal Lahendong dengan Direktur pabrik gula Masarang, Pengurus Yayasan Masarang dan Ketua Kelompok petani Aren setempat.
Sentra Nira Aren diperkirakan dapat dikembangkan di beberapa daerah terutama Sulawesi Utara (Kab. Minahasa Utara dan Kabupaten Minahasa Selatan), NTT, Bengkulu, Sumatera Utara, Banten, Jawa Timur dan Jawa Tengah sehingga diharapkan pengembangan Nira Aren tidak hanya memberikan kontribusi terhadap nilai akademis bagi para peneliti/dosen, juga memberikan sumbangan insentif riil pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat petani Nira di daerah khususnya sentra-sentra Nira. Semoga melalui program ini memberikan kontribusi nyata bagi keberhasilan program triple track pemerintah yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan. (Dep.Prog/AD-PTE/ humasristek)

REJANG LEBONG BUTUH PABRIK GULA AREN

Sumber: Kompas (30/04/2007, 13:31:45)
Bengkulu, Kompas – Gula aren yang menjadi salah satu primadona Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, dalam waktu dekat ditargetkan merambah pasar nasional. Terkait dengan itu, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong dewasa ini tengah menjajaki kerja sama dengan investor untuk membangun pabrik pengolahan gula aren untuk menjadi gula kristal yang peluang pasarnya lebih luas.
Wakil Bupati Rejang Lebong Iqbal Bestari yang dihubungi di Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, Jumat (27/4), mengungkapkan, pada saat ini dalam seminggu berton-ton gula aren produksi Rejang Lebong dipasarkan ke Kota Bengkulu dan sejumlah kota di luar Bengkulu, misalnya ke Palembang dan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
“Pemkab Rejang Lebong belum memiliki data konkret berapa ton gula aren dari daerah ini yang dipasarkan ke luar daerah saban hari. Namun bisa dipastikan jumlahnya lebih dari satu ton sehari karena produksi gula aren Rejang Lebong sejak dulu memang sudah melimpah. Bahkan selain sayur-sayuran segar, karena produksinya banyak, maka gula aren tersebut kini sudah menjadi salah satu primadona yang dihasilkan daerah ini,” kata Iqbal.
Dia menyebutkan, lebih dari 500 keluarga Rejang Lebong sekarang terlibat dalam pengolahan gula aren. Sentra produksi gula aren ini tersebar di beberapa kawasan, antara lain di Kecamatan Selupu Rejang dan Padang Ulak Tanding.
Karena iklim dan topografi yang mendukung, kawasan Rejang Lebong ternyata menjadi daerah subur tempat tumbuhnya pohon aren. Pohon penghasil nira sebagai bahan baku gula aren ini sampai sekarang hanya tumbuh alami dan belum dibudidaya secara terprogram.
Menurut Iqbal, secara tradisional yang dihasilkan perajin gula di Rejang Lebong selama ini baru berupa gula aren dengan kemasan sangat sederhana. Padahal dengan ketersediaan bahan baku gula aren yang melimpah, seyogianya daerah ini dapat menghasilkan gula aren jenis lain, misalnya gula kristal yang bahan baku utamanya juga dari nira atau aren. (ZUL)

Mei 2007

Investor Pembuat Etanol Masuk Minsel dan Mitra

Sumber: SulutNews, 3 Mei 2007
sulutNews, AMURANG – Kabar baik kembali diterima para petani aren di Sulut, lebih khusus di Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Pasalnya, sekarang ini investor yang bergerak dalam bidang pembuatan etanol (bahan peng-ganti BBM), yang bahan baku utamanya adalah air nira atau se-ring dikenal dengan saguer, siap bekerjasama dengan Pemkab Minsel.
Investor yang berasal dari Kalimantan ini, yaitu PT Blue, berencana akan bekerjasama dengan Perusahaan Daerah (PD) Minsel dalam pembuatan etanol tersebut. “Ini merupakan angin segar bagi petani aren di Sulut lebih khusus Minsel dan Mitra. Sebab, PT Blue juga akan inves-tasi dalam hal penanaman (budidaya) aren. Melihat peluang ini, itu berarti masa depan daerah kita akan seperti Brunei Darussalam dan Kuwait,” kata personel DPRD Minsel, Johanis Jangin SE, yang merupakan orang yang mendatangkan para investor ini.
Sementara itu, menurut salah satu wakil dari PT Blue tadi, Gustav Oehmke, hasil penelitian Prof Arief dari pihak BPPT yang menjadi konsultan PT Blue, mengatakan bahwa potensi aren dan kualitas aren di Sulut sangat luar biasa. “Prospek ke depan untuk Sulut secara ekonomi akan cerah karena akan menjadi daerah penghasil etanol/BBM terbesar di Indonesia. Dengan catatan, pemerintah dan masyarakat Sulut merespon peluang ini dengan menanam secara besar-besaran pohon aren,” ujar Gustav.
Rombongan investor ini sendiri, menurut Jangin, sudah bertemu dengan Wakil Bupati Minsel, Ventje Tuela, dan mendapat sambutan positif, dengan petunjuk bekerjasama dengan pihak PD Minsel dan beberapa pengusaha dan petani aren di Minsel dan Mitra.
Sumber:  http://webmail.sulut.go.id/new/isi.php?vd=berita&id=17

Aren Perdana Nurul Ilmi

Sumber: dprdkutaikartanegara.go.id – 21/05/2007 ; http://www.dprdkutaikartanegara.go.id/bacawarta.php?id=852
wil 2
Willie Smits Ketika Memberikan Kursus Singkat Cara Menanam Aren Photo: sahrin
Tekad Saiful Aduar SPd, Sekretaris Komisi I DPRD Kutai Kartanegara, untuk meningkatkan taraf ekonomi rakyat, melalui budidaya tumbuhan Aren jenis unggul, bukan main-main. Bersama Yayasan Nurul Ilmi yang didirikannya sejak 2001 lalu, Jumat (18/5) melaksanakan penanaman perdana di kawasan Melabang, Desa Loa Tebu Kecamatan Tenggarong.
Hadir dalam acara tersebut, Dr. Ir. Willie Smits, peneliti sekaligus pendiri pabrik gula Aren pertama di Indonesia. Dengan penanaman perdana ini, pihak yayasan berharap, akan memberikan terobosan sektor unggulan baru, di bidang ekonomi kerakyatan, sebagai pengganti tambang.
Langkah ini diilhami kondisi keuangan Kutai Kartanegara, yang terlalu bertumpu pada komoditas tambang, padahal sektor ini suatu saat akan habis dan tidak dapat diperbaharui lagi. Sehingga perlu adanya sebuah terobosan, sebagai alternatif ekonomi di Kutai Kartanegara.
wil3
Aren Telah Menjadi Program Nasional yang Multifungsi Photo: sahrin
Melalui beberapa pengkajian, dan audiensi bersama pakar Aren Indonesia Dr Ir Willie Smits, akhirnya diputuskan, bahwa Aren adalah komiditi paling unggul untuk wilayah Kutai Kartanegara. Pasalnya, selain ada teknologi baru untuk budidaya jenis unggul, juga kultur masyarakat asli, yang telah menjadi penyadap nira secara turun temurun adalah sebuah pondasi kuat untuk membangun sektor ekonomi baru.
Seperti dijelaskan Willie Smits dalam acara penanaman perdana tersebut, Aren yang memiliki nama latin Arenga pinnata dan masuk pada genus Arecaceae (Palmae) ini, adalah komoditi jenis unggul, dengan nilai ekonomis tinggi, jauh melebihi kelapa sawit yang kini banyak ditanam secara besar-besaran.
Aren memang memutar balik “pepatah tak kenal maka taka sayang” meskipun dikenal sejak ratusan tahun silam, keberadaanya tidak terlalu populer dan terkesan hanya sebagai pekerjaan sampingan, kurang diminati dan tidak menghasilkan. Banyak pihak merasa sanksi, apakah benar tumbuhan yang banyak tumbuh liar tersebut bernilai ekonomis tinggi.
“Padahal sebaliknya, tumbuhan ini adalah harta karun yang dapat memberikan nilai ekonomi signifikan bagi masyarakat dan daerahnya,” kata Willie.
Dijelaskannya, berbeda sektor tambang baik Migas maupun Batu Bara, yang suatu saat akan habis, dan upaya eksploitasinya serta penggunaannya mencemari udara. Aren justru menghijaukan kembali lingkungan, dan nira yang disadap tidak hanya dapat menjadi gula, tetapi juga energi alternatif seperti ethanol, sebuah senyawa yang yang kualitasnya mendekati avtur, bahan bakar pesawat terbang.
wil 1
Saiful Aduar Sedang Memperhatikan Willie Smits Yang Mempraktekkan Pembuatan Lubang Tanam Photo: sahrin
Dibidang lapangan kerja, dengan budidaya bibit unggul dan pembanguna pabrik, akan memberikan kesempatan baru bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Apabila semua berjalan lancar, Aren akan menyerap banyak tenaga kerja hingga 81,02 orang perhektar. Bandingkan dengan sawit, yang hanya dapat menyerap 0,11 orang perhektar.
“Apalagi dengan penciptaan mesin petik, dan adanya kebijakan beberapa negara Eropa, yang hanya akan membeli sawit apabila ditanam pada lahan kritis tanpa menebang hutan saja, tentu keunggulan sawit akan banyak berkurang,” ulas Willie.
Saiful Aduar sendiri menjelaskan, dengan segala keunggulan tersebut, pihaknya merasa sangat penting untuk budidaya secara besar-besaran. Banyak lahan kritis yang dapat ditanami, sehingga membantu upaya menghijaukan kembali paru-paru dunia.
Disamping itu sebagai yayasan pendidikan, pihaknya melihat, penting sekali keberadaan komoditi unggul untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Dengan demikian akan membantu meningkatkan mutu pendidikan, yang saat ini kian mahal saja harganya. (rin)

Potensi Pengembangan BBN dari Nira Aren dengan Menggunakan Energi Panas Bumi di Sumatra Utara

Sumber: http://www.ristek.go.id/; Jumat,25 Mei 2007 14:58
25052007150058
Nira Aren yang merupakan salah satu kekayaan nabati yang dimiliki Indonesia, tumbuh subur dan tersebar luas di seluruh pelosok nusantara.
Di propinsi Sumatra Utara, khususnya kawasan Sibolangit-Brastagi Kabupaten Deli Serdang dan di Kabupaten Tanah Karo dengan ketinggian 500-1200 meter dari permukaan laut, pohon aren tumbuh tersebar diribuan hektar secara acak di lereng-lereng gunung sepanjang kiri-kanan jalan raya Medan menuju Brastagi hingga ke kawasan Pembangkit Listrik Panas Bumi yang terletak di Sidebuk Kabupaten Karo. Lokasi tersebut sangat potensial untuk pengembangan dan pemanfaatan Nira Aren dalam skala besar dengan melakukan penanaman dan pembibitan secara sistematis.
Akan tetapi pemanfaatan dan pemahaman masyarakat setempat tentang produksi Nira Aren sebagai bahan baku bioetanol sebagai pengganti BBM, masih sangat terbatas. Seperti juga di propinsi-propinsi yang ada di NKRI, sampai saat ini pemanfaatan Nira Aren aren masih sebatas untuk pembuatan gula merah dan minuman keras beralkohol “Tuak” (hasil permentasi Nira Aren secara Alami). Berdasarkan hasil survei di Kecamatan Sibolangit, produktifitas Nira Aren dapat menghasilkan 20-50 liter/hari/pohon memiliki kadar gula 12-16% dan etanol 70-90% skala kecil (200-500) liter/hari/sentra. Belum semua semua Aren termanfaatkan, hal ini disebabkan faktor distribusi dan populasi aren yang tidak merata. Oleh sebab itu pembibitan dan distribusi bibit aren serta sosialisasi program bioetanol dapat dilakukan kerjasama dengan beberapa pihak yang potensial. salah satunya adalah dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Propinsi Sumut yang mengelola 300 Ha lahan bekas Jambore Nasional Tahun 1977.
Melalui Kajian Tekno Ekonomi yang dilakukan oleh Keasdepan Program Tekno Ekonomi, Kedeputian Bidang Program Riptek, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang Bahan Bakar Nabati (BBN) dari Nira Aren, kedepan dimungkinkan untuk dilakukan pabrikasi untuk pengembangan Nira Aren dalam skala besar karena dapat memanfaatkan buangan dari Pembangkit Listrik Panas Bumi yang memiliki suhu tinggi sekitar 100 oC. Pembangkit Listrik Panas Bumi yang terletak di Sidebuk Kabupaten Karo SUMUT, adalah milik Pertamina dengan kapasitas 1 Mw (sudah terpasang) dan kapaitas 2×5 Mw sedang dalam tahap penyelesaian (Agustus 2007).
Dengan demikian pengembangan Bahan Bakar Nabati dari Nira Aren dengan mamanfaatkan Panas Bumi, secara secara tidak langsung dapat mengurangi ketergantungan akan pangan (gula/sukrosa) dan dapat berkontribusi terhadap penggunaan energi alternatif berbahan bakar nabati. (AsdepPTE/ humasristek)

Juli 2007

Warga Manfaatkan Air Gula Aren Pengganti Susu

(ANTARA News) – Sebagian warga di Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara (Sulut), manfaatkan air gula aren (enau) sebagai konsumsi tambahan makanan kesehatan anak-anak, guna mengganti pemberian susu akibat kenaikkan harga sampai 10 persen.
“Air gula aren juga baik untuk membantu kebutuhan gizi anak-anak kami, sangat mudah didapat dan murah harganya,” katanya Meis, warga di Kecamatan Kumelembuay, Minsel, Minggu.Pemberian air gula aren tidak secara rutin seperti layaknya pemberian susu, hanya diberikan setiap pagi sebagai makanan tambahan.
Bahkan hanya bisa dibeli dengan harga Rp2.000 kepada petani pengumpul.Menurutnya, susu masih diberikan kepada anak-anaknya walaupun mulai terbatas konsumsinya akibat sulit dijangkau dengan harga mahal, yakni susu jenis full cream bisa dibeli Rp10 ribu hingga 25 ribu, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp7.000-7.500setiap bungkus.
“Walaupun harga susu cukup mahal kami harus membelinya guna membantu nutrisi kesehatan, sekaligus memanfaatkan air gula aren yang ada,” ujar ibu rumah tangga itu.Sementara itu, Noni, warga Minsel, mengatakan, tidak bisa bertahan lama memberikan air gula aren, karena belum tentu bisa memberikan manfaat besar pada kesehatan, apalagi anak-anaknya mulai jenuh dengan minuman itu.
“Kami sangat berharap pemerintah bisa menanggulangi kenaikkan harga susu yang terus melambung,” katanya.Pingkan, salah satu Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Amurang, mengatakan, susu masih merupakan kebutuhan utama bagi anak-anaknya, karena belum ada nutrisi pengganti yang bisa didapat secara instan.”Sejak anak saya lahir tidak pernah lagi diberikan Air Susu Ibu (ASI), sehingga susu sangat bermanfaat bagi perbaikan gizi,” katanya.(*)
Copyright © 2007 ANTARA

Petani tuntut janji pemkab, Pembangunan Pabrik Aren Mendesak

Adanya janji pihak Pemkab Minsel untuk membangun se-buah pabrik gula aren di wilayah Minsel, akhirnya mulai dituntut oleh kalangan petani Minsel, yang merasa hasil mereka sudah semakin sulit dijual terlebih khusus di Kota Tomohon yang telah mendapatkan penolakan warga setempat.
Menurut tokoh masyarakat Minsel, Karel Lakoy, mewakili kalangan petani, dengan adanya program pembangunan pabrik gula aren mini melalui dana De-konsentrasi Dinas Perkebunan Sulut, kiranya bisa difasilitasi Pemkab Minsel untuk bisa mewujudkan harapan warga khususnya petani gula aren di Minsel.
Menurut Lakoy, pada tahun 2005 silam sejumlah tokoh Min-sel bersama Tim UNDP melaku-kan survei potensi aren di Ka-bupaten Minsel dan hasilnya sangat mendukung. Di mana, UNDP sudah pernah melakukan survei dan hasilnya sangat ba-gus untuk potensi aren.
Jadi pembangunan pabrik ter-sebut, lanjutnya, sangat men-desak dan cocok dibangun di wilayah Minsel mengingat dae-rah ini memiliki cadangan ba-han baku berupa nira dari po-hon seho atau arenga pinata yang cukup banyak dan terse-bar di semua kecamatan di Minsel.
Dijelaskannya, kecamatan yang memiliki peluang untuk pembangunan pabrik mini itu masing-masing Kecamatan Mo-toling, Kumelembuai, Tompaso Baru dan Tareran. Oleh karena itu, menurut Lakoy, tidak ada alasan pabrik tersebut dipin-dahkan ke daerah lain apalagi di daerah yang tidak memiliki bahan baku tersebut.
Menurut Lakoy, meski pihak Yayasan Masarang Tomohon di-ketahui masih mengambil bahan baku dari Minsel, namun itu belum menjamin untuk petani aren di Minsel. Karena itu sangat mendesak adanya pabrik gula aren di Minsel. De-ngan demikian, pihaknya men-desak Dinas Perkebunan Minsel untuk segera melakukan pende-katan dengan propinsi sekaligus menyiapkan lokasinya. Sebagai masukan, tambahnya, untuk lokasi pabrik sebaiknya didiri-kan di Kecamatan Motoling.(pen)

Aren Paling Potensial Untuk BBN

Arfi Bambani Amri – detikFinance,  Senin, 30/07/2007
Manado – Dari semua bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN), aren (Arenga Pinnata) merupakan yang paling potensial untuk dijadikan BBM alternatif itu. Produktivitasnya mengalahkan semua biomassa lainnya.
Hal itu diungkapkan Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Energi Nabati untuk Substitusi BBM Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, dalam seminar di Hotel Gran Puri, Jl Sam Ratulangie, Manado, Senin (30/7/2007).
“Aren itu bisa memproduksi bioethanol 40 ribu liter per hektar setiap tahun,” ungkap Unggul yang juga Ketua Panitia Ekspedisi BBN 2007.
Nira yang dihasilkan Aren mengalahkan jumlah bioethanol yang dihasilkan ubi, kentang, tetes tebu, jagung, sagu dan lain-lain. Bahkan jika dibandingkan dengan biomassa penghasil biodiesel untuk pengganti solar, aren tetap paling produktif. “Kelapa sawit hanya bisa menghasilkan 4 ton biodiesel per hektar setiap tahun dan kelapa 2,5 ton,” jelas Unggul lagi.
Kelebihan lain dari aren yang merupakan tumbuhan endemik Asia Tenggara ini adalah kemampuannya menahan air. Aren merupakan tanaman hutan yang bisa untuk konservasi. “Jadi budidaya aren ini akan melawan anggapan BBN akan memperluas perusakan hutan,” kata Unggul. Untuk diketahui, bioethanol merupakan substitusi bensin (premium).
Terdapat 3 jenis biomassa yang bisa diolah menjadi bioethanol, yakni bahan berpati, bahan bergula dan bahan berselulosa. Bahan berpati misalnya biji sorghum, sagu, ubi, singkong, garut dan umbi dahlia. Bahan bergula yakni nira aren, tetes tebu, nira nipah, sari buah mete dll. Bahan berselulosa adalah kayu, jerami, batang pisang, bagas dll.
“Bahan berpati dan bahan berselulosa memerlukan pengolahan terlebih dulu sebelum menjadi ethanol,” jelas Unggul. Bahan berpati harus ditanak kemudian disakarifikasi. Bahan berselulosa harus diolah dulu untuk kemudian dilakukan sakarifikasi. Setelah itu, hasil sakarifikasi difermentasi dan dipisahkan residu untuk mendapatkan ethanol. “Bioethanol inilah yang menjadi alternatif premium,” tandas Unggul.
Acara seminar ini merupakan kegiatan pertama dari rangkaian acara Ekspedisi BBN 2007 yang akan berlangsung di 8 kota di pulau Sulawesi dan Jawa. Tim ekspedisi akan mengendarai kendaraan menggunakan campuran BBN menjelajahi kota-kota itu.(aba/qom)
Sumber: http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/30/time/123512/idnews/810999/idkanal/4

Agustus 2007

Menjadi kebanggaan bisa dijadikan bioetanol, Warga Diajak Tanam Pohon Enau

Adanya kepedulian dan perhatian dari pemerintah lewat program kerja Departemen Sumber Daya Energi RI, di mana hasil dari pohon enau alias seho yaitu captikus bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, ditanggapi positif salah satu tokoh muda Minsel asal Motoling, Sehtly Kohdong SH.
Menurut Kohdong, hal itu merupakan suatu langkah maju bagi para petani cap ti-kus yang selalu dipandang ne-gatif oleh beberapa pihak. Akan hal itu, Kohdong menga-jak seluruh warga untuk ber-sama-sama memanfaatkan program dari pemerintah ter-sebut untuk menanam pohon enau, demi kesejahteraan warga sendiri.
“Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi seluruh warga di Motoling. Karena ternyata captikus tersebut bisa dijadi-kan bioetanol atau sebagai ba-han bakar kendaraan bermo-tor. Untuk itu juga, Pemkab Minsel harus memperhatikan hal ini dengan memberikan bantuan dan memfa-silitasi petani, serta menjadikan ini pro-gram prioritas ke depan nanti agar bisa bermanfaat bagi para petani cap tikus ter-sebut, serta hasil dari para petani ini bisa maksimal dan bergu-na untuk kemajuan bersama,” kata pria yang me-rupakan salah satu pejuang bagi para petani captikus ini.
Seperti diketahui, bioetanol bukan hanya bersumber pada tanaman seho peng-hasil nira, tetapi ter-masuk pada tana-man singkong mau-pun ampas tebu. Dan bioetanol ini di-kembangkan untuk menggantikan fungsi bahan bakar pada premium. Sedang-kan biodiesel yang bisa diambil dari minyak sa-wit, minyak jarak serta minyak kelapa, dapat menggantikan bahan bakar kendaraan atau minyak solar.(vcq)

Aren Sulut Bisa Atasi Krisis BBM, Produksi Etanol Lima Kali Lipat Konsumsi Bensin

Sumber: Manado Post, 2 Agustus 2007; http://www.blue.co.id/
MANADO— Jika masyarakat Sulut serius memanfaatkan Cap Tikus untuk mengganti BBM, konsumsi premium (bensin) malah bisa akan digantikan bio etanol. Betapa tidak, jika dimaksimalkan potensi 2 juta pohon aren Sulut maka 876 ribu kiloliter (Kl) bio etanol bisa dihasilkan dalam setahun. Sementara konsumsi bensin untuk kendaraan di Sulut, hanya sekitar 180-an Kl dalam setahun. Artinya, produksi bio etanol hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan konsumsi bensin.
Perhitungan yang diberikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), konsumsi bio etanol sebagai substitusi bensin pun tidak seluruhnya, tapi hanya sepersepuluh bagian. Atau 9 bagian bensin dicampur dengan bio etanol dengan kadar 99,5 persen. “Campuran ini sudah bisa menghasilkan bahan bakar sekelas Pertamax yang beroktan 92,” kata Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Hitung-hitungan kasar juga diberikan. Jika diasumsikan konsumsi premium Sulut sekitar 200 ribu Kl, berarti hanya cukup saja 180 ribu Kl yang dipasok karena 20 ribu Kl sudah bisa digantikan dengan bio etanol dari cap tikus Sulut. “Ini artinya memaksimalkan potensi lokal. Aren sangat berpotensi asalkan masyarakat dan pemerintah punya komitmen. Toh, tidak seluruh produksi untuk substitusi BBM,” tambah Unggul.
Sementara Sekretaris I Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Dr Ing Evita H Legowo menyatakan, hasil penelitian dari Tim Nasional BBN memang sudah cukup banyak, tapi tinggal menunggu respon pemerintah untuk membuat regulasinya. “Bahan bakar nabati dari bio etanol terutama aren sudah cukup lama diuji coba, kami tinggal menunggu respon dari Pertamina dan pemerintah soal tata niaganya,” kata Dr Evita.
Asisten II Setprov Sulut Marieta Kuntag MBA menyambut baik terobosan ini. Katanya, Pemprov, dalam hal ini Disperindag dan Dinas Perkebunan sementara menyusun program untuk pemanfaatan aren sebagai substitusi BBM. “Kemungkinan akan diperbanyak industri pengolahan air nira menjadi etanol teknis yang fisibel untuk mencampur premium,” katanya. “Kami sudah mengusahakan perbaikan tanaman aren. Sebab, selain untuk produksi gula semut juga untuk etanol,” timpal Kadis Perkebunan Ir Rene Hosang.
Baik Unggul dan Dr Evita menyarankan agar masyarakat Sulut menjaga pohon aren yang sudah ada, bahkan tambah menanam, karena potensi aren sangat besar sebagai pengganti BBM maupun konsumsi lain. “Ini potensi lokal yang harus dikembangkan. Kalau Sulut kelebihan, bisa dilempar ke daerah lain yang kekurangan etanol,” ujar mereka. Saat ini yang memproduksi alkohol dari nabati baru di Jawa dan sebagian Sumatera dari tetes tebu. (sumber: Menado Post)
DSCN0834
Timnas BBN, Bio-Fuel Expedition 2007 di Motoling Menyaksikan Pengoperasian Alat PT. Blue Indonesia yang didampingi oleh Anggota DPRD Minahasa Selatan Bpk. Harvey Tewal yang sangat antusias terhadap program Bio-Ethanol diterapkan di daerahnya .
PT. Blue Indonesia telah berhasil membuat ethanol 99,5% dari bahan baku nira (aren) dan di Produksi di Motoling Minahasa Selatan, yang telah dikunjungi oleh Timnas BBN, BPPT dan Bio Fuel Expedition 2007. Saat ini PT. Blue telah menempatkan alat 2 Unit dengan kapasitas total 1.5 ton per hari. (Humas: PT. Blue Indonesia)
DSCN0822
Aren yang disadap oleh PT. Blue Indonesia, Sebagai Bahan Baku Bio-Ethanol.
DSCN0827
Proses Penyadapan yang disaksikan oleh Timnas BBN. Dr Unggul Priyanto, Direktur Pengembangan Sumberdaya Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Bapedalda Sulbar Canangkan Penanaman Pohon Aren

Sumber: http://www.kapanlagi.com/ Minggu, 19 Agustus 2007 19:31
Kapanlagi.com – Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mulai tahun depan memprogramkan penanaman pohon aren di lahan kritis untuk menanggulangi kerusakan lingkungan di daerah provinsi itu.
“Kami akan kembangkan pohon aren pada lahan-lahan kritis, sebab luas lahan kritis di Sulbar saat ini mencapai sekitar 200.000 hektare. Oleh karena itu, dengan penanaman aren ini diharapkan bisa menanggulangi kerusakan lingkungan di daerah ini,” kata kepala Bapedalda Sulbar, Mujirin M. Yamin, di Mamuju, Minggu (19/8).
Yamin tidak menyebutkan secara rinci mengenai jumlah pohon aren yang akan ditanami pada lahan kritis itu. Ia hanya mengatakan, program penanaman pohon aren sangat berfungsi untuk memulihkan kerusakan lingkungan, karena sejumlah wilayah di Sulbar sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor.
Selain itu, mantan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Palu ini, program penanaman pohon aren juga diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat karena tanaman ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk kebutuhan berbagai kegiatan industri.
Menurut dia, pengembangan tanaman aren selain cocok ditanam di wilayah Sulbar, juga sekitar 50% penduduk Sulbar belum memiliki tanah di atas 50 hektare, sehingga nantinya pendistribusian bibit pohon aren nantinya akan mudah dilakukan untuk penanaman pada lahan kritis itu.
Yamin mengatakan, tanaman aren memiliki keunggulan, yakni selain kegiatan budidaya tanamnya relatif mudah, juga produksi aren berupa air nira dapat diolah menjadi bahan pangan seperti gula aren dengan menggunakan teknologi tradisional.
“Pengolahan air nira dari aren menjadi gula merah sudah lama dikenal masyarakat sini, oleh karena itu, kalau pohon aren ini dikembangkan lebih banyak lagi, maka di daerah ini juga bisa dikembangkan industri rumah tangga yang memproduksi gula aren,” ujarnya.
Menurut Yamin, pihaknya akan memberikan langsung bibit pohon aren kepada masyarakat secara gratis, kemudian masyarakat juga akan dimintai partisipasinya untuk mengolah sendiri tanaman tersebut, sehingga diharapkan masyarakat bisa memperoleh pendapatan dari hasil panen pohon aren itu.
“Kami sedang melakukan inventarisasi lahan masyarakat untuk dapat dikembangkan tanaman aren, kami berharap tahun depan program ini bisa terwujud,” ujarnya.
Sementara untuk tahun ini telah dilakukan penanaman tanaman produktif pada lahan kritis milik masyarakat.
Tanaman produktif itu seperti durian, manggis, langsat dan rambutan serta bibit pohon ebony, meski jumlah bantuan bibit tanaman tersebut masih terbatas karena program tersebut akan dilakukan secara bertahap.
“Bantuan bibit tanaman tersebut disalurkan kepada seluruh kabupaten di Sulbar, dan dikembangkan sesuai dengan kondisi spesifik lokal masing-masing daerah,” ujarnya.
Selain itu, pihak juga mulai tahun 2008 memprogramkan pemberdayaan masyarakat pesisir dengan penerapan teknologi pembuatan empang (tambak ikan) berwawasan lingkungan, sebab sebagian besar kegiatan tambak rakyat yang ada di sepanjang bibir pantai Selat Makassar itu masih kurang memperhatikan aspek lingkungan, sehingga terjadi dan terancam abrasi ombak. (*/bun)

Jadi sentra produksi pohon seho , Pabrik Gula Aren Bakal Dibangun di Motoling

MOTOLING – Kabar gembira kembali diterima masyarakat di Kecamatan Motoling. Pasal-nya, dalam waktu dekat ini di-kabarkan Motoling bakal di-dirikan pabrik mini gula aren, dikarenakan wilayah tersebut merupakan satu-satunya sen-tra produksi pohon seho yang terbesar di Kabupaten Minsel.
Menurut pemerhati kemas-yarakatan Minsel, Karel Lakoy, pada tahun 2005 silam sejum-lah tokoh Minsel bersama Tim UNDP melakukan survey po-tensi aren di Kabupaten Min-sel. Dan hasilnya sangat men-dukung untuk pembangunan pabrik tersebut.
Dijelaskan Lakoy, mengingat wilayah Minsel memiliki cada-ngan bahan baku berupa nira dari pohon seho atau arenga pinata yang cukup banyak, ter-nyata kecamatan yang memiliki peluang untuk pembangunan pabrik mini itu adalah Kecamatan Motoling. “Yang jelas, tidak ada alasan lagi pabrik tersebut di-pindahkan ke daerah lain, apa-lagi di daerah yang tidak me-miliki bahan baku,” tukas Lakoy.
“Bayangkan saja Yayasan Masarang Tomohon yang ma-sih mengambil bahan baku dari Minsel. Ini bertanda pro-duk atau hasil di Minsel belum sepenuhnya diberdayagu-nakan, khususnya untuk ke-makmuran warga atau petani gula aren tersebut. Untuk itu, diharapkan Pemkab Minsel, lewat Dinas Perkebunan mampu melobi bahkan meng-implementasikan pembangu-nan ini. Apa yang menjadi ha-rapan petani aren akan jadi kenyataan dan agar harga bahan baku aren stabil, serta tidak lagi bergantung pada produksi captikus yang sarat persoalan,” ujar Lakoy.(pen)

Minahasa Selatan segera bangun Pabrik Gula Aren

Sumber: http://www.minsel.go.id/; 09/2007 (ferry)
Pembangunan Pabrik Gula Aren direncanakan akan di mulai akhir tahun 2007 dengan lokasi di wilayah Teep kecamatan Amurang barat. Menurut Bupati Minahasa Selatan Drs. Ramoy Markus Luntungan, Dipilihnya Daerah Teep sebagai lokasi pembangunan Pabrik Gula Aren karena salahs atunya berada dekat dengan wilayah atau daerah sumber bahan baku dan mudah diakses sebagai daerah pemasaran. Adanya Pabrik Gula Aren akan dapat meningkatkan nilai tambah produk dan hasil olahan dan pemanfaatan pohon aren ,s ehinga dapat meningkatkan kesejahteraan petani gula aren. Karena dengan adanya Pabrik Gula Arens ebagai Unit Pengelolahan Hasil (UPH) Gula Aren atau Gula Semut akan dapat juga meningkatkan harga jual nira di tingkat petani. Menurut Luntungan, Kapasitas produksi Pabrik Gula Aren tersebut nantinya bisa mencapai 1000 sampai 2000 Kilogram gula semut per hari. Dengan menggunakan “Open PAN Technology”, pabrik gula aren ini dapat mengelola Nira Aren, Kelapa, tebu. Sweet Shorgum dan memproduksi gula aren, gula cerat, gula pabrik bahkan ethanol.
Pembangunan Pabrik Gula Aren di Minahasa Selatan sudah sangat dibutuhkan masyarakat khususnya petani karena besarnya potensi produksi gula aren di Kabupaten Minahasa Selatan. Sebab luas tanaman aren di Minahasa Selatan saat ini sebesar kurang lebih 2500 hektar atau 46 persen dari luas tanaman aren di Sulawesi Utara, yang tersebar di kecamatan Tareran, Motoling, Tompasobaru, Kumelembuai, Ranoyapo, Tumpaan, Tenga, Sinonsayang, Tatapaan serta Amurang Barata dan Amurang Timur. Sementara produksi setara nira mencapai 30 juta liter per tahun.

Oktober 2007

Industri Kecil Sulut Berpotensi Produksi Gula Aren 12.500 Ton Per Tahun

Sumber: Kapanlagi.com, Kamis, 25 Oktober 2007 ; http://www.kapanlagi.com/h/0000196347.html
Kapanlagi.com – Potensi produksi industri kecil gula aren di Propinsi Sulawesi Utara (Sulut) mampu mencapai 12.500 ton gula semut (kristal) tiap tahun.
“Petani yang menggeluti gula aren sebanyak 1.666 kepala keluarga tersebar hampir merata di kabupaten/kota di propinsi Sulut,” kata Kepala Seksi Program dan Evaluasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara (Sulut), Nico Rambitan, Rabu di Manado.
Sentra paling menonjol yakni Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), di mana ribuan warga mengandalkan penghasilan utama keluarga dari hasil tanaman enau tersebut.
“Kabupaten Minahasa, Kota Tomohon, Minahasa Utara dan Bolaang Mongondow, terdapat industri kecil pengolahan gula aren, namun jumlahnya masih kalah dibandingkan Minsel,” kata Nico.
Gula aren punya prospek pasar cukup baik, baik pasar lokal maupun luar negeri membutuhkan gula aren dalam bentuk kristal, hanya permasalahannya industri kecil belum mampu menjamin kontinuitas pasokan.
“Beberapa hari lalu saja, pengusaha bergerak pada industri pengolahan makanan telah datang ke Sulut untuk menjajaki kerjasama dengan industri aren lokal,” kata Nico.
Mereka sangat membutuhkan gula aren kristal, sebab dipercaya sebagai alternatif paling baik bagi penderita diabetes, di mana meski konsumsi gula aren dalam jumlah banyak tidak memberi efek negatif makin parahnya penyakit tersebut.
Teddy Talokon, petani Minahasa yang sudah pernah mengolah gula aren batu menjadi gula aren kristal, mengatakan, lebih untung dijadikan kristal sebab jaminan harga lebih tinggi dan prosesnya lebih mudah.
“Prosesnya sangat sederhana setelah saguer (air nira) dimasak dan dicampur dengan beberapa rempah khas sudah dapat dibentuk menjadi butir kristal, setelah dikemas dapat langsung dipasarkan,” kata Teddy.
Di Sulut terdapat pabrik gula Aren Masarang di Kota Tomohon yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono awal tahun ini, namun produksinya sempat tersendat menyusul adanya permasalahan menimpa perusahaan tersebut. (*/rsd)

November 2007

Gula Aren Antar Pabrik Gula Aren Masarang Jadi Finalis The World Challenge 2007

Tahu gula aren? Gula yang lebih dikenal dengan “brown sugar” atau Gula Jawa yang banyak beredar di pasaran, ternyata menjadi salah satu finalis lomba pemberdayaan kelas internasional “The World Challenge 2007” yang digelar BBC, Newsweek dan Shell.
Namun bukan gula arennya yang membuat menjadi finalis. Adalah Dr Willie Smits yang mengantarkan petani di Masarang, Tomohon, Sulawesi Utara untuk maju. Kalau dahulunya petani memasak air sadapan dari Pohon Aren menggunakan kayu bakar dari pohon yang ditebang, hadirnya Dr Willie ini membuat para petani menggunakan panas bumi untuk memasak air sadapan untuk menjadi gula aren.
Karena memanfaatkan energi panas bumi, kualitas gula aren pun meningkat. Kualitas meningkat, produkpun bisa di ekspor yang nota bene menghasilkan keuntungan. Keuntungan diberikan langsung kepada petani anggota koperasi. Tidak kurang dari 6,285 petani miskin dan keluarganya kini tengah merasakan manfaat dari ide Dr Willie. Selain itu juga hutan yang dahulunya menjadi sumber kayu bakar bisa menjadi lestari.
Dr Smits Percaya, model pemberdayaan seperti ini bisa menjadi suatu alternatif jangka panjang terhadap jatuhnya perdagangan minyak sawit. (www.theworldchallenge.co.uk/ toar sumakul/ tommy bernadus)

Mendagri Tinjau Pabrik Gula Aren

Sumber:  http://www.endonesia.com/Rabu, 07-Nopember-2007,
Manado, Indonews — Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Mardiyanto, meninjau pabrik Gula Aren Masarang, di Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), Selasa, guna melihat dari dekat sistem pengelolaan komoditi unggulan warga setempat, sebelum diekspor keluar daerah dan mancanegara.
Me ndagri yang didampingi Gubernur Sulut, SH Sarundajang, mengharapkan pabrik gula aren tersebut, menjadi salah satu solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama peningkatan taraf hidup ekonomi warga miskin.
”Gula aren memiliki prospek cukup besar pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga harus dikembangkan terus,” katanya.
Produk si gula aren di Kota Tomohon mendapatkan perhatian serius pemerintah pusat, karena telah dijadikan sasaran prioritas pengembangan usaha di daerah, terutama Sulut yang merupakan daerah sentra tanaman aren milik petani.
Mendagr i memuji produksi gula aren Masarang Tomohon, yang mampu menghasilkan gula bentuk kristal, dan sangat disukai masyarakat untuk dikonsumsi, serta mampu diekspor ke mancanegara.
Se mentara itu, Gubernur Sulut, menghimbau warga untuk mengalihkan konsumsi gula pasir ke gula aren, karena tidak memiliki resiko besar pada kesehatan.
”Pr oduk gula aren memang mahal harganya karena bisa capai Rp 60 ribu per kilogram (kg), namun minim resiko kesehatan sekaligus membantu meningkatkan produk lokal daerah,” ujar Gubernur Sulut.
Tujuan utama produksi gula aren di Sulut, bagaimana mengembangkan hasil komoditi tersebut mampu merambah keluar daerah dan mancanegara, sebagai devisa masuk bagi tingkat perekonomian daerah.
”Dihar apkan kepada masyarakat untuk tidak segan-segan memproduksi gula aren, karena potensi alam dengan ketersediaan pohon nira sangat banyak,” ungkapnya.
Ketu a Yayasan Masarang, Dr Willie Smits, sebagai pengelola pabrik aren tersebut, menjelaskan keterlibatan ribuan petani dalam proses produksi hingga peluang pasar luar negeri, yakni mampu melibatkan 3.721 petani pemilik enau di Kota Tomohon, sebagai pemasuk air nira (saguer) bahan baku pembuatan gula aren. *** M012/ant

Perkembangbiakan Enau Bisa Direkayasa

Kompas, Rabu, 14 November 2007 – 19:50 wib
PADANG, KOMPAS – Tanaman enau bisa dikembangbiakan secara buatan, baik rekayasa genetika atau kultur jaringan, menyusul ditemukan cara untuk menghilangkan senyawa fenolik yang membuat biji enau berada dalam masa dorman yang lama.
Teknik menghilangkan senyawa fenolik ini ditemukan oleh Puti Reno Raudha Thaib, dalam disertasi doktoral berjudul Regenerasi In Vitro Tanaman Enau (Arenge pinnata Merr.) melalui Embriogenesisi Somatik. Dengan ditemukan teknik tersebut, perkembangbiakan enau bisa dilakukan lebih cepat lagi.
”Secara alami, yakni lewat perkembangbiakan biji, enau membutuhkan waktu antara 1-2 tahun sebelum mulai berkecambah. Namun, dengan pengolahan di laboratorium, tanaman baru mulai tumbuh dalam waktu sekitar 141,07 hari,” tutur Raudha, saat mempertahankan disertasi di hadapan tim penguji, Rabu (14/11) di Universitas Andalas, Padang.
Bila perkembangbiakan alami dengan biji hanya menghasilkan satu tanaman enau baru, maka pengembangan tanaman secara rekayasa ini bisa menghasilkan tanaman baru antara 6-21 buah. Dengan demikian, perbanyakan tanaman enau ini bisa semakin cepat dilakukan. (ART)

Nira Aren Bahan Baku Agroindustri Bioetanol Yang Menjanjikan

Sumber: http://www.pusatagroindustri.com/ Nov 23, 2007
Pada akhir 2006 Eka Bukit juga menggeluti bisnis bioetanol. Baik biodiesel (sumber energi mobil bermesin diesel) maupun bioetanol alias biopremium termasuk bahan bakar nabati yang bersumber dari tumbuhan. Sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Sumatera Utara itu memang tak mengolah dari bahan mentah. Ia bekerja sama dengan puluhan produsen bioetanol skala rumahan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Masyarakat setempat secara turun-temurun piawai mengolah nira aren menjadi etanol dengan peralatan sederhana. Karena terbiasa mengolah etanol, teknologi produksi sangat mereka kuasai. Dengan demikian, Eka tak harus menyuluh atau mengajari cara menyuling, misalnya. Bagi mereka, etanol nira aren itu sebagai bahan minuman keras yang sohor dengan sebutan Cap Tikus. Malahan minuman itu juga dikapalkan ke Papua.
Bioetanol produksi mereka berkadar etanol 35%. Untuk menghasilkan satu liter perlu 9 liter nira. Padahal, bermacam industri seperti farmasi dan kosmetik memerlukan etanol berkadar 99,6%. Eka kemudian memurnikan hasil sulingan masyarakat Minahasa Selatan hingga diperoleh kadar etanol 99,6%. Menurut perhitungan Eka, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% menghabiskan 15 liter nira aren.
Di Minahasa Selatan yang menjadi sentra aren, harga seliter nira Rp200. Untuk menghasilkan bioetanol Eka menghabiskan Rp3.000. Itu baru untuk bahan baku. Dengan menghitung biaya proses, transpor Manado-Jakarta, dan pajak, total biaya produksi untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% mencapai Rp4.700. Ongkos transpor Manado-Jakarta Rp700 per liter.
Pasar terbentang
Rata-rata produksi Kreatif Energi Indonesia 1-2 ton per hari atau 20.000 ton per bulan. Kepada reporter Trubus Andretha Helmina, Eka Bukit mengatakan bahwa volume penjualan bioetanol mencapai 1-2 ton per hari dengan harga Rp6.500 per liter. Artinya, setiap hari ia mengutip laba bersih Rp1.800.000-Rp3.600.000 atau Rp36-juta per bulan dari penjualan bioetanol skala rumahan.
Memang produksinya belum dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, walau sudah memenuhi standar kualitas bahan bakar nabati. Namun, lantaran konsumen bioetanol sangat luas, Eka baru sanggup memasok industri farmasi. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar direktur operasional PT Kreatif Energi Indonesia itu. Sebagai gambaran, hingga saat ini Eka belum sanggup melayani tingginya permintaan bioetanol.
Setidaknya 255 ton permintaan rutin per bulan yang gagal terpasok. Jika itu terlayani, tentu saja Eka bakal meraup laba bersih jauh lebih besar. Oleh karena itu lajang kelahiran Medan 16 Juni 1972 itu kini membuka pabrik pengolahan bioetanol di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Daerah itu dipilih lantaran terdapat 14 kecamatan sentra aren dari total 22 kecamatan. Lokasinya gampang dijangkau dari Jakarta dan relatif dekat.
Jarak yang dekat berarti memangkas biaya produksi, terutama biaya pengangkutan. Di Lebak, Banten, bungsu 5 bersaudara itu juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Ia akan menampung seluruh produksi mereka sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Saat ini 14 kecamatan itu menghasilkan 120 ton nira per pekan. Eka juga mengembangkan 7 ha sorgum sebagai bahan baku. Anggota famili Gramineae itu memang potensial sebagai penghasil biotenaol (baca: Tanaman Penyumbang Bahan Bakar halaman 22).
Itulah strategi Eka membangun kilang hijau. Kilang adalah instalasi industri tempat pemurnian minyak bumi. Namun, kilang juga berarti fermentasi air tebu atau nira. Proses itu harus dilalui ketika ia mengolah nira menjadi bioetanol yang terus ia kembangkan. Ia sama sekali tak khawatir soal pemasaran. Selama ada kehidupan, bioetanol tetap diperlukan: untuk minuman, makanan, kosmetik, rokok, juga bahan bakar. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina)
Sumber : Majalah Trubus

Nira Aren Bahan Baku Agroindustri Bioetanol Yang Menjanjikan

Sumber:  http://www.pusatagroindustri.com/ Nov 23, 2007
Pada akhir 2006 Eka Bukit juga menggeluti bisnis bioetanol. Baik biodiesel (sumber energi mobil bermesin diesel) maupun bioetanol alias biopremium termasuk bahan bakar nabati yang bersumber dari tumbuhan. Sarjana Teknik Industri alumnus Universitas Sumatera Utara itu memang tak mengolah dari bahan mentah. Ia bekerja sama dengan puluhan produsen bioetanol skala rumahan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Masyarakat setempat secara turun-temurun piawai mengolah nira aren menjadi etanol dengan peralatan sederhana. Karena terbiasa mengolah etanol, teknologi produksi sangat mereka kuasai. Dengan demikian, Eka tak harus menyuluh atau mengajari cara menyuling, misalnya. Bagi mereka, etanol nira aren itu sebagai bahan minuman keras yang sohor dengan sebutan Cap Tikus. Malahan minuman itu juga dikapalkan ke Papua.
Bioetanol produksi mereka berkadar etanol 35%. Untuk menghasilkan satu liter perlu 9 liter nira. Padahal, bermacam industri seperti farmasi dan kosmetik memerlukan etanol berkadar 99,6%. Eka kemudian memurnikan hasil sulingan masyarakat Minahasa Selatan hingga diperoleh kadar etanol 99,6%. Menurut perhitungan Eka, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% menghabiskan 15 liter nira aren.
Di Minahasa Selatan yang menjadi sentra aren, harga seliter nira Rp200. Untuk menghasilkan bioetanol Eka menghabiskan Rp3.000. Itu baru untuk bahan baku. Dengan menghitung biaya proses, transpor Manado-Jakarta, dan pajak, total biaya produksi untuk menghasilkan 1 liter bioetanol 99,6% mencapai Rp4.700. Ongkos transpor Manado-Jakarta Rp700 per liter.
Pasar terbentang
Rata-rata produksi Kreatif Energi Indonesia 1-2 ton per hari atau 20.000 ton per bulan. Kepada reporter Trubus Andretha Helmina, Eka Bukit mengatakan bahwa volume penjualan bioetanol mencapai 1-2 ton per hari dengan harga Rp6.500 per liter. Artinya, setiap hari ia mengutip laba bersih Rp1.800.000-Rp3.600.000 atau Rp36-juta per bulan dari penjualan bioetanol skala rumahan.
Memang produksinya belum dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, walau sudah memenuhi standar kualitas bahan bakar nabati. Namun, lantaran konsumen bioetanol sangat luas, Eka baru sanggup memasok industri farmasi. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar direktur operasional PT Kreatif Energi Indonesia itu. Sebagai gambaran, hingga saat ini Eka belum sanggup melayani tingginya permintaan bioetanol.
Setidaknya 255 ton permintaan rutin per bulan yang gagal terpasok. Jika itu terlayani, tentu saja Eka bakal meraup laba bersih jauh lebih besar. Oleh karena itu lajang kelahiran Medan 16 Juni 1972 itu kini membuka pabrik pengolahan bioetanol di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Daerah itu dipilih lantaran terdapat 14 kecamatan sentra aren dari total 22 kecamatan. Lokasinya gampang dijangkau dari Jakarta dan relatif dekat.
Jarak yang dekat berarti memangkas biaya produksi, terutama biaya pengangkutan. Di Lebak, Banten, bungsu 5 bersaudara itu juga menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Ia akan menampung seluruh produksi mereka sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Saat ini 14 kecamatan itu menghasilkan 120 ton nira per pekan. Eka juga mengembangkan 7 ha sorgum sebagai bahan baku. Anggota famili Gramineae itu memang potensial sebagai penghasil biotenaol (baca: Tanaman Penyumbang Bahan Bakar halaman 22).
Itulah strategi Eka membangun kilang hijau. Kilang adalah instalasi industri tempat pemurnian minyak bumi. Namun, kilang juga berarti fermentasi air tebu atau nira. Proses itu harus dilalui ketika ia mengolah nira menjadi bioetanol yang terus ia kembangkan. Ia sama sekali tak khawatir soal pemasaran. Selama ada kehidupan, bioetanol tetap diperlukan: untuk minuman, makanan, kosmetik, rokok, juga bahan bakar. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina)
Sumber : Majalah Trubus

Desember 2007

Workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren Untuk Bahan Pangan dan Energi

Kamis,06 Desember 2007 11:52
Lonjakan harga minyak bumi pada akhir 2005 telah memaksa kita untuk mencari bahan bakar alternatif. Sejalan dengan isu lingkungan dan kesehatan, maka upaya pemenuhan kekurangan suplai energi ke depan diarahkan ke sumber terbarukan dan ramah lingkungan, antara lain biofuel. Namun hampir semua sumber bahan baku biofuel bersaing dengan kebutuhan pangan. Dalam konteks ini, aren dapat berperan sebagai salah satu sumber bioenergi yang penting mengingat produktivitasnya yang sangat tinggi dan selain itu aren juga dapat ditanam di antara tanaman yang sudah ada atau sebagai komponen tanaman untuk reboisasi sehingga tidak bersaing dengan komoditas pangan. Hal tersebut disampaikan oleh David Aroerang Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor pada Workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren untuk Bahan Pangan dan Energi di Gedung II BPPT Jakarta, 6 Desember 2007.
Workshop ini dimulai dengan pembacaan laporan oleh Hari Purwanto Asdep Program Tekno Ekonomi, dan dilanjutkan dengan pembukaan oleh Bambang Sapto P, Deputi Bidang Perkembangan Riset Iptek. Sebagai pembicara pada workshop ini adalah David Aroerang, Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor, (Budidaya Aren dan Pemanfaatannya untuk Pangan, Industri, Energi dan Konservasi Lingkungan), Johan Bukit, Pembina Pengrajin Gula Merah di Berbagai Daerah (Pemanfaatan Nira Aren sebagai Bahan Baku Gula Merah), Johan Susilo, Dirut PT Banyu Lancar Unggul Engineering (Produksi Bioetanol dari Nira Aren Skala Mikro-Kecil); M Rosjidi, Peneliti Teknologi Proses BPPT (Sinergi Aren dengan Tanaman-tanaman Penghasil Nira Lainnya untuk Produksi Bioetanol Bahan Bakar) ; dan Johan A Mononutu, Manajer Proyek percontohan Etanol dari tanaman aren Sulawesi Utara (Pemberdayaan Petani Aren Melalui Produksi Bioetanol Bahan Bakar).
Bambang Sapto dalam sambutannya mengatakan bahwa aren yang merupakan salah satu penyumbang bioetanol, dalam pembudidayaan dan pemanfaatannya diharapkan memperhatikan prosesnya mulai dari hulu hingga hilir. “Bukan hanya prosesnya tapi juga pelakunya.” tambah Bambang.
Workshop ini diikuti oleh peserta yang berasal dari Litbang LPND dan LPD serta perguruan tinggi, Lembaga Non-Pemerintah yang berkecimpung di gula dan bioetanol, dan Lembaga Pemerintah yang berkaitan dengan topik diskusi. (humasristek)

AREN MERUPAKAN SALAH SATU PENYUMBANG PENYEDIAAN BIO-ETHANOL

Kominfo Newsroom, 06 December 2007,
Jakarta, 6/12/2007 (Kominfo-Newsroom) – Seorang pejabat Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengatakan, Aren merupakan salah satu yang menjadi peyumbang bagi penyediaan bio-ethanol dalam rangka pengembangan bio-ethanol yang diprogramkan pada tahun 2011.
“Dalam pengembangan aren tentu kita perhatikan dari sisi hulu, proses sampai kepada penduduk,” kata Deputi Bidang Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenneg Ristek Dr. Ir. Bambang Sapto Pratomosunu, M.Sc pada pembukaan workshop budidaya dan pemanfaatan Aren untuk bahan pangan dan energi di Jakarta, Kamis (6/12).
Dalam pengembangan tersebut, Akademisi, Business, dan Government (ABG) akan mengupayakan dari hulu sampai ke hilir. Dari hulu penyediaan bahan bakunya, prosesnya, dan kemudian di akhirnya akan menangkap untuk bisa disalurkan kepada pengguna.
Di beberapa daerah Aren telah dimanfaatkan, ada yang diambil tepungya, ada yang dimanfaatkan untuk menjadi minuman dengan kadar tertentu, dan sekarang teknologi telah memungkinkan untuk memprosesnya menjadi bahan baker.
Maka pada tingkat proses telah menjadi bahan pokok pembicaraan, tetapi juga pembinaan kepada para penyedia hingga untuk keanekaragam penggunaan tetapi diarahkan menjadi wadah ilmiah untuk mendukung bahan bakar.
“Jadi kondisi hulu, proses, sampai kepada hilir diharapkan akan menjadi pokok pembahasan yang sangat bermanfaat hingga memberikan konstribusi dari salah satu penyedia bahan bakar,” ungkapnya.
Sementara itu, Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor, Dr. David Allorerung dalam acara yang sama mengatakan, Aren sejak jaman dahulu sudah menyebar di seluruh Indonesia, termasuk salah satu keluarga palma yang serbaguna, dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut.
Selama ini penyebarannya berlangsung secara alamiah saja, dan bahkan dianggap sebagai tanaman liar saja atau tanaman hutan. Budidaya Aren masih sangat langka karena kegiatan penelitian untuk tanaman tersebut sangat terbatas dan tidak kontinyu sebagai konsekuensi dari rendahnya perhatian terhadap pengembangan komoditas tersebut.
Aspek penemuan varietas unggul adalah salah satu aspek yang tidak disentuh oleh para peneliti, dan hingga saat ini belum ada suatu varietas unggul yang dilepas secara resmi oleh pemerintah.
Sementara Aren bisa dimanfaatkan kalau disadap, artinya memerlukan tenaga kerja terampil, dan beda misalnya kalau tebu. Buruh panen tebu tidak perlu ada keterampilan yang diperlukan ada teknologi di pabriknya, tetapi kalau Aren perlu tenaga terampil, untuk itu semua petani belum tentu mampu memanennya, sehingga perlu diberikan pelatihan.
Dari hasil-hasil penelitian selama ini, disebutkan satu pohon bisa menghasilkan rata-rata 15 liter perhari, kalau dari tanaman yang baik.
Aren selain disadap, juga menghasilkan kolang kaling dari bunga betina sebagai bahan makanan penyegar untuk campuran buah segar atau panganan seperti kolak.
Tanaman Aren tersebut juga lazim ditebang untuk diambil patinya yang banyak digemari karena aromanya lebih disukai dibandingkan pati dari sagu. Pati dari Aren tersebut terutama digunakan dalam industri makanan semacam mie yang disebut sohun (so’un) dan untuk membuat makanan ringan seperti cendol. (T. Gs/toeb/c )

POPULASI TANAMAN AREN DI SULAWESI UTARA SEKITAR 2 JUTA POHON

Sumber: http://web.dev.depkominfo.go.id/ December 6, 2007,Jakarta, 6/12/2007
(Kominfo-Newsroom) – Tanaman aren di Sulawesi Utara yang dikenal sebagai pohon seho sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat menjadi sumber mata pencaharian melalui produksi minuman saguer (sejenis tuak) dan captikus (alkohol kadar tingi) ataupun yang diolah menjadi gula merah atau gula aren. Jenis tanaman tersebut di Sulawesi Utara merupakan tanaman yang tumbuh liar di daerah pegunungan dengan populasinya mencapai kisaran 2 (dua) juta pohon.
“Proses penyadapan saguer persis sama dengan proses penyadapan gula kelapa di Jawa,” kata Manajer Proyek Percontohan Etanol dari Tanaman Aren Sulawesi Utara, Johan A. Mononutu, pada workshop Budidaya dan Pemanfaatan Aren Untuk Bahan Pangan dan Energi di Jakarta, Kamis (6/12).
Dalam presentasinya bertemakan meningkatkan nilai tambah produk tanaman aren melalui produksi bioetanol berbasais industri rakyat, disebutkan, di Sulawesi Utara proses penyadapan tersebut disebut batifar.Sedangkan produk captikus serta gula aren merupakan produk lanjutan dari bahan baku saguer, hanya bedanya gula aren melalui proses pemasakan, adapun captikus dihasilkan melalui proses penyulingan dengan menggunakan alat tradisional yang sangat sederhana.
“Dengan kata lain, produk captikus ataupun gula aren merupakan kegiatan home industry yang telah berlangsung secara turun-temurun berabad-abad lamanya,” ungkapnya.Tanaman aren di Sulawesi Utara dinilai sangat layak dan signifikan untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar nabati dengan pertimbangan, pada saat ini telah tersedia (walaupun tumbuh secara liar) sebanyak lebih kurang 2 (dua) juta pohon aren di berbagai kabupaten di Sulawesi Utara.
Adanya ketersediaan tenaga kerja terampil, dan proses penyulingan meskipun terbilang sederhana, telah dikenal masyarakat Sulawesi Utara sehingga sentuhan teknologi terapan (tepat-guna) merupakan solusi terhadap faktor produktifitas.Selain itu, juga masih tersedia ribuan hektar lahan tidur yang jika diperlukan dapat dimanfaatkan, serta diversifikasi produk saguer dan captikus menjadi bioetanol dapat menunjang ketahanan sosial-ekonomi masyarakat Sulawesi Utara.
Sejalan dengan pertimbangan tersebut, pada sisi yang lain telah pula berkembang kesadaran di tengah masyarakat Sulawesi Utara, bahwa keberadaan captikus sebagai minuman berkadar alkohol tinggi mempunyai beberapa dampak buruk.Berdasarkan hal-hal tersebut, pada tanggal 21 September 2007, Bupati Minahasa Selatan telah meresmikan Proyek Percontohan Saguer Menjadi Bioetanol yang berlokasi di desa Kotamenara, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Propinsi Sulawesi Utara.
Sejak berjalannya Proyek Percontohan Saguer Menjadi Etanol tersebut, pihaknya telah mengembangkan, memperkenalkan, dan menggunakan alat penyulingan dengan teknologi terapan (tepat-guna) dengan bimbingan dari BPPT, dalam hal ini Balai Besar Teknologi Pati Bidang Teknologi Etanol dan Derivatif. (T. Gs/toeb/c )

Gorontalo Bakal Miliki Pabrik Gula Aren

Kamis, 06 Desember 2007
Budidaya Pohon Aren cukup Potensial.
Aren yang memiliki nama ilmiah Arenga Pinata ini, merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang ternyata cukup potensial untuk dikembangkan di Gorontalo. Tanaman ini dianggap memiliki nilai ekonomis dan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Gorontalo. Dan menurut AR. Katili, salah satu Aleg Deprov yang mencoba merintis budidaya tanaman Aren di Gorontalo, bahwa bisa tumbuh subur di Gorontalo yang pada umumnya adalah dataran rendah dan berbukit-bukit.
Pohon Aren adalah tanaman yang serba guna. Artinya, hampir semua bagian tanaman ini bisa berguna baik langsung maupun tidak langsung bagi manusia, kata AR. Katili yang ditemui kemarin. AR. Katili juga mengatakan, bahwa Aren memiliki dampak ekonomis yang sangat tinggi. Nira, yang hasilnya bisa dibuat menjadi Gula Aren atau yang lazim disebut Brown Sugar, kerap dijadikan dihotel-hotel dengan harga perkilogramnya lebih tinggi dibandingkan Gula Tebu. Selain itu, Gula Aren Juga dapat dijadikan Ethanol sebagai alternatif pengganti bahan bakar yang berasal dari Fosil.
Potensi Ethanol yang dapat dihasilkan adalah 1,5 Liter perhari untuk setiap pohonnya. Untuk produksi nira, setiap pohonnya bisa menghasilkan nira sebesar 10 sampai 25 Liter perhari, jelas AR. Katili. Ditambahkannya pula, telah ada rencana di Gorontalo bakal dibangun pabrik Gula Aren yang nantinya akan menggunakan tenaga panas bumi. Dengan menggunakan tenaga panas bumi ini, menjauhkan dari terjadinya kerusakan alam dan ramah lingkungan, tukasnya.
Disamping itu, menurut AR. Katili, dampak dari pembudidayaan tanaman Aren ini, bisa menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Untuk setiap 10 batang Aren, membutuhkan atau menyerap 1 tenaga kerja sedangkan untuk 1 Ha lahan dapat ditanami 250 pohon. Kalau ada 100.000 Ha yang dikembangkan untuk ditanami pohon Aren, maka tenaga kerja yang diserap cukup banyak. Dengan demikian akan mengurangi angka kemiskinan karena daya beli masyarakat mengalami peningkatan, ujarnya.

Memopulerkan Pohon Aren sebagai Sumber Energi

Sumber: sumber:www.seputar-indonesia.com, Senin, 10 Desember 07 – oleh : admin
Pohon aren memiliki manfaat yang besar.Selain sebagai bahan pangan,yakni gula dan tepung,kandungan alkoholnya juga potensial dijadikan bioetanol. Hal itu membuat nama tanaman yang memiliki nama latin Arenga pinnata merr mencuat sebagai tanaman yang bisa menghasilkan bahan bakar alternatif pada beberapa tahun terakhir.
JAKARTA(SINDO) –Selain itu, pohon aren bisa mengobservasi lahan karena kemampuannya mengikat air permukaan. Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan (Puslitbangbun), Departemen Pertanian (Deptan), David Allorerung menyatakan, saat ini pohon aren tidak setenar tanaman jarak yang lebih dianggap potensial menghasilkan biodiesel.
Namun, bukan berarti pohon aren kalah potensial dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya. ’’Meskipun lebih dikenal sebagai tanaman hutan, aren telah mulai dibudidayakan secara baik oleh suku Batak Toba sejak awal tahun 1900-an.Tanaman itu tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia pada berbagai kondisi agroekosistem,” paparnya.
Tanaman yang masuk keluarga palma itu memang serbaguna.Menurut David, aren dapat tumbuh pada ketinggian 0–1500 meter di atas permukaan laut. Hampir semua bagian tanaman aren dianggap berguna bagi manusia,baik untuk pangan, bahan baku industri, dan energi terbarukan. Aren juga memiliki fungsi hidrologis yang tinggi sehingga sangat sesuai untuk tanaman konservasi.
Di Pulau Jawa, tanaman aren banyak ditebang untuk dipanen patinya. Meskipun dianggap menurunkan populasi,batang pohon aren merupakan penghasil tepung yang baik. Bahkan, tepung untuk bihun terbaik berasal dari aren. Data mengenai populasi pohon aren tampaknya masih belum bisa dipastikan secara tepat meski sudah terbukti potensial sebagai sumber bahan baku energi bioetanol.
Berdasar data Departemen Pertanian, luas arealtanamanarensebanyak59.495 hektare (ha) pada 2005. ’’Pengetahuan dan informasi tentang budi daya aren masih sangat terbatas. Pasalnya, kegiatan penelitian terhadap tanaman itu tidak dilakukan secara kontinu sebagai konsekuensi rendahnya perhatian pada pengembangan aren,”ungkapnya.
Meski demikian,ujar David,aren bisa diperbanyak secara generatif melalui biji dari buah yang sudah matang.Ada juga pohon yang benihnya berkecambah hanya dalam waktu dua bulan sudah mencapai 90%. Padahal, pohon lain masih kurang dari 60% dalam waktu tiga bulan. ’’Meski penelitian mengenai pemupukan pada pohon aren praktis belum dilakukan, pada prinsipnya semua jenis tanaman akan memberikan respons positif terhadap perlakuan pemupukan, baik organik maupun anorganik,”paparnya.
Namun,Balai Kelapa dan Palma telah menerbitkan standar pohon aren yang unggul, di antaranya produksi nira antara 15–20 liter per hari, memiliki 7–8 mayang bunga jantan,umur mulai disadap 9–10 tahun, jumlah mayang yang disadap 15–20 mayang jantan sepanjang umur produktifnya, lama penyadapan 6–12 bulan untuk mayang jantan pertama.
Tanaman aren baru mulai menghasilkan nira pada umur 8–10 tahun dengan masa produktif 2–4 tahun.Petani harus terikat setiap harinya untuk menyadap nira pada pagi dan sore. Sebab, jika tidak dilakukan penyadapan, aren akan berhenti memproduksi nira.
’’Sebagai estimasi,jika rata-rata per pohon per hari menghasilkan 10–15 liter nira dan ada 80 pohon dalam 1 ha, dengan kemampuan rata-rata penyadapan 200 hari, tanaman aren itu bisa menghasilkan 20 ton alkohol.Kunci dari pengembangan ini adalah bagaimana menciptakan sharing benefit yang adil antara petani, industri rumahan, dan industri,”jelasnya.
Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi Kementrian Riset dan Teknologi Hari Purwanto menambahkan, program pengembangan aren sudah dimulai sudah lama. Namun,baru belakangan ini intensif dilakukan dan kembali dipopulerkan. Menurut dia, tanaman itu lebih cocok ditanam di wilayah dataran tinggi dengan kondisi tanah yang subur sehingga menghasilkan nira yang maksimal, yakni 15–20 liter per hari.
Beberapa wilayah di Indonesia yang memang sudah mengembangkan aren, yakni Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi Utara,Bengkulu,Sulawesi Selatan,dan lain-lain. ’’Jadi, sebenarnya mau teknologi yang sederhana atau teknologi tinggi, aren tetap berguna. Menebangnya pun bisa berguna. Masalahnya, aren itu untuk bahan makanan atau energi. Itulah yang masih diperebutkan,”tandasnya. (abdul malik)

Memanen Bioethanol dari Pohon Aren

by : Agus Dwi Darmawan, http://jurnalnasional.com, Selasa, 11 Des 2007
Pohon aren
INDONESIA memang negeri yang kaya sumber bahan alam. Buktinya dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi, salah satu peneliti mengatakan bahwa Aren bisa menjadi sumber bioethanol. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung dengan persentase sebesar 7,5 persen dari produksi 15 liter per hari, maka untuk jangka waktu satu bulan saja bisa dihasilkan hingga 500 liter bioethanol. Padahal jumlah ini termasuk yang minimal dan terhitung untuk satu pohon Aren.
Salah satu pengisi makalah seminar, John B Bukit dari PT Kreatif Energy Indonesia mengatakan sudah sejak dahulu Aren secara tradisional ditumbuhkan oleh masyarakat dan menjadi gula kepercayaan. Diolah tanpa pengawet dan pemutih menjadikan gula aren ini sangat berkhasiat dan bisa memperpanjang umur. Namun beberapa di antaranya juga ada yang membuatnya sebagai minuman memabukkan.
”Kalau dibandingkan dari keunggulannya, gula aren lebih larut dalam air dan juga rasanya khas aromatik dibanding tebu,” ujar John. Sayang meski unggul, karena budidayanya dianggap sebagai produk hutan yang tak perlu ditanam, populasi tanaman ini menjadi turun. Bahkan karena pengolahan yang tidak murni, harga di pasaran menurun drastis.
Di Sibolangit Sumatera Utara contohnya, banyak petani aren mencari jalan pintas dengan mencampur 60 persen gula putih dan aren. Dari segi waktu katanya bisa lebih dihemat dan harga laku jual masih tergolong tinggi. Untuk campuran ini misalnya, harga bisa mencapai Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram. Harga gula asli aren mencapai Rp 10.000.
”Kasus seperti ini juga terjadi di Kudus, Tuban, Lamongan dan Tuban. Bahkan di Lampung sudah tidak bisa dipercaya lagi karena harga produk bisa mencapai Rp 5.000,” katanya. Saat ini budidaya kembali bergairah dan diharapkan bisa memerbaiki keadaan masyarakat setelah beberapa perusahaan meningkatkan produksi bioethanol pada 2007 ini.
Peneliti Aren Puslitbangbun Deptan Bogor David Aroerang mengatakan, upaya memanfaatkan aren sebagai bioethanol bisa menjadikan aren sebagai nilai tambah. Ketersediaan bahan bakar yang mengeruk uang negara dengan sistem subsidi dan menipisnya persediaan membuat energi terbarukan seperti aren turut dipertimbangkan. ”Ini adalah diversifikasi yang menguntungkan,” katanya.
Selain aren, di Indonesia sudah banyak sumber bahan pangan yang memiliki manfaat yang sama. Lebih menguntungkan menggunakan sumber bahan nabati ini karena kompetisi sebagai bahan pangan lebih kurang. Dibandingkan tanaman singkong, jagung, tebu atau kelapa sawit sendiri. Di lain pihak juga menyumbang pada kendaraan berbahan bakar fosil karena bisa menurunkan emisi.
Di Sulawesi, kata Davis, tanaman ini sudah menjadi mata pencaharian masyarakat yang khas, karena dikenal sebagai lokasi aren terbesar di Indonesia. Terdapat sekitar dua juta pohon milik masyarakat. Variasinya dalam bentuk produk tidak hanya gula tetapi juga menjadi minuman saguer (sejenis tuak) dan captikus (alkohol berkadar tinggi).
Tahun ini untuk melihat potensi bioethanol yang tinggi, Bupati Minahasa Selatan membangun proyek percontohan Saguer menjadi bioethanol yang berlokasi di Kotamenara, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.
Menurut David, sejak uji produksi yang dimulai pada Maret lalu diperoleh fakta bahwa baik saguer maupun captikus dapat menghasilkan bioethanol 90-95 persen setelah proses destilasi pertama. Selanjutnya pada proses destilasi kedua dengan penggunaan zeolit mampu menghasilkan biethanol 99,6 persen (fuel grade).
Kapasitas produksi satu alat destilasi skala rumahan (perkelompok terdiri dari dua petani/penyadap aren) saat ini mencapai lima liter per jam. Dalam masa operasi 10 jam per hari bisa dihasilkan 90 persen bioethanol. Sementara dari 10 alat destilasi dihasilkan sekitar 13 ton per bulan untuk 26 hari kerja.

Sebaran Aren di Berbagai Daerah

by : Agus Dwi Darmawan
www.jurnalnasional.com, Jakarta | Selasa, 11 Des 2007
Pohon aren sudah dikenal masyarakat karena memiliki banyak kegunaan. Hampir semua bagian tanaman aren ini berguna, baik untuk pangan, bahan baku industri maupun energi terbarukan. Aren juga memiliki kemampuan fungsi hidrologi yang tinggi sehingga sangat cocok untuk tanaman konservasi.
Misalnya di pulau Jawa, tanaman aren banyak ditebang untuk dipanen patinya. Daunnya dibuat tali temali, niranya untuk gula dan berbagai keperluan lain. Kolang kaling yang dibuat dari bunga betinanya yang masih muda juga menjadi makanan favorit. Gula merah aren sendiri juga banyak diminati karena rasanya yang khas. ”Tak heran pulau Jawa menjadi penyebab sumber utama menurunnya populasi aren karena ditebang,” kata David Allorerung, Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan Deptan.
Pohon aren juga bisa menjadi tanaman konservasi. Hal ini ditunjukkan bahwa aren banyak dijumpai di lokasi yang berbukit dan rawa bencana alam, tanah longsor dan banjir. Pohon aren juga bisa menghambat erosi. Selain itu dengan sistem agrofprestry, tanaman aren juga banyak dimanfaatkan untuk daerah aliran sungai (DAS). Di Papua tanaman ini banyak dijumpai di lembah-lembah dan aliran sungai. Di 14 provinsi lainnya, juga dapat ditemui yang sama misalnya di Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu hingga ke Sulawesi dan Maluku. Tak heran di beberapa daerah yang banyak arennya masih ditemui air yang awet (melimpah di musim hujan dan kemarau) dan murni.
Meski sudah lama disuarakan oleh berbagai kalangan, pemerintah Indonesia dinilai lambat merespons. Baru pada 2005 ketika krisis energi digembar-gemborkan dengan dibarengi perubahan iklim, kesadaran untuk mengembangkan energi terbarukan mulai terpicu.
Menurut data Direktorat jenderal Bina Produksi Perkebunan Deptan, data lahan aren di seluruh Indonesia selalu berubah. Catatan 2005 dan 2006 memperlihatkan ada kurang lebih mencapai 59,495 hektar lahan aren yang tersebar di 33 provinsi. Mengingat aren ini dapat tumbuh di mana saja dan komoditasnya yang besar, diharapkan pemerintah memiliki alokasi anggaran khusus untuk petani aren.
Hambatan yang juga muncul selain ketidakmerataan lahan aren seperti halnya kelapa sawit, penemuan varietas unggul aren juga tidak pernah disinggung oleh peneliti. Hingga saat ini masyarakat hanya melestarikan bibit unggul yang dianggapnya baik. Kriterianya ada yang produksinya tinggi hingga 15-20 liter nira per hari, memiliki 7-8 bunga jantan, mulai disadap setelah 9-10 tahun dan berbagai pengamatan masyarakat lainnya. ”Masyarkat sudah tahu pastinya, tetapi jika pemerintah dan peneliti campur tangan di sana maka potensinya lebih besar lagi,” katanya.

Mumpung Natal, Gula Aren Dijadikan Replika Gereja

Sumber: http://www2.kompas.com/; 24 Desember 2007
MANADO, SENIN – Para pembuat gula aren di Manado jeli juga memanfaatkan momentum Natal tahun ini untuk mengangkat komoditi industri kecilnya agar lebih dikenal masyarakat. Mumpung suasana Natal, 6 ton gula aren disulap menjadi replika gereja.
“Replika Gereja sangat unik dan memiliki seni tinggi itu, memiliki penuh makna jelang perayaan Natal 25 Desember 2007 dan Tahun Baru 1 Januari 2008,” kata Heydi, salah satu pengunjung saat menyaksikan replika di Manado Convention Center (MCC), Senin (24/12).
Replika gula aren itu, selain mengangkat seni dan budaya jelang hari besar umat beragama, petani asal Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), turut mengangkat potensi dan sumber daya alam pertanian di daerah tersebut yang bisa dijual ke daerah lain atau mancanegara. Apalagi replika bangunan Gereja itu telah dicatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tanggal 22 Desember 2007, karena sangat unik dan pertama dilakukan di Indonesia.
“Pencatatan rekor MURI itu, bagian dari upaya petani di Minsel, mengangkat budaya dan potensi alam untuk dikembangkan lebih jauh,” kata Ketua Dewan Seni dan Budaya Sulut, Kombes (Pol) Benny Mamonto.
Pengerjaan replika Gereja dari gula aren itu, memakan waktu selama 11 jam, dengan persiapan pelaksanaan selama delapan hari, dari Desa Wanga Amongena, Kecamatan Motoling, Kabupaten Minsel.
“Ide kreatifitas ini timbul dari sejumlah petani, untuk mengangkat gula aren agar lebih dikenal masyarakat luas, ” kata petani asal Motoling, Joutje Pondaag, sambil menyebut ada 58 petani yang tergabung pada kelompok tani pemberdayaan pemerintah Minsel. (ANT/WAH)

1 Comment »

  1. okeee
    Comment by anwar — October 14, 2010 @ 6:02 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar