Minggu, 24 Februari 2013

Diburu Konsumen, Harga Ikan Gabus Melambung Tinggi

Diburu Konsumen, Harga Ikan Gabus Melambung Tinggi

Taufik Wijaya - detikfinance
Senin, 29/08/2011 08:52 WIB
Browser anda tidak mendukung iFrame
Palembang - Ikan gabus atau yang dikenal sebagai ikan kutuk di Jawa atau ikan kocolan di Betawi mengalami kenaikan harga dua kali lipat di Palembang, Sumatera Selatan jelang Lebaran kali ini. Harganya tembus Rp 85.000 per kilogram, padahal di hari biasa hanya berkisar Rp 35-40.000 kilogram di Palembang.

Meskipun harganya mahal, ikan tetap tetap diburu warga Palembang yang merayakan Lebaran. Ikan gabus bagi masyarakat Palembang merupakan bahan utama pembuatan makanan pempek. Makanan pempek, yang biasa dimakan masyarakat Palembang setiap hari, tetap menjadi menu utama mereka saat lebaran.

"Kalau lebaran ini kita makanan yang enak-enak, termasuk juga pempek yang paling enak, yang menggunakan ikan sungai, ikan gabus. Kalau sehari-hari kan kita lebih sering makan pempek dari ikan laut," kata Fahri warga Palembang kepada detikFinance, Senin (29/8/2011).

Tingginya permintaan ikan gabus, karena masyarakat Palembang lebih memilih bahan baku pempek dengan menggunakan ikan sungai, dibandingkan ikan laut. Alasannya ikan sungai tidak terlalu amis dibandingkan ikan laut, dan tidak terasa gatal di mulut. Kalaupun ikan laut yang digunakan yakni ikan tenggiri, sebab aroma dan rasanya seperti ikan sungai.

Dulu, ikan sungai yang digunakan yakni ikan belida, tapi karena ikan ini sudah jarang didapatkan akibat banyak lahan rawa-rawa yang ditimbun, sejak tahun 1990-an, warga Palembang lebih sering menggunakan ikan gabus.

Sementara para pedagang pempek yang masih menggunakan bahan baku ikan belida, terpaksa mendapat suplai dari Kalimantan yang masih banyak didapatkan ikan belida. Di Kalimantan sendiri ikan belida disebut ikan pipih.

Budidaya Ikan Gabus,joni sepriyan

Hampir semua orang tahu tentang ikan gabus. Karena mereka sudah merasakan kelezatan masakan ikan gabus. Ikan inipun mudah sekali didapat, bisa dibeli di pasar, bahkan di warung-warung sekitar tempat tinggalnya. Namun apakah mereka tahu asal-usul ikan tersebut. Tentu saja tidak semua orang tahu, termasuk cara budidayanya. Inilah yang akan dikupas dalam artikel ini.
Soal asal usul.
Ternyata ikan gabus adalah ikan asli Indonesia. Hidup di perairan sekitar kita, di rawa, di waduk dan di sungai-sungai yang airnya tenang. Namun ikan gabus yang bisa dibeli di pasar-pasar dan warung-warung, kemungkinan besar dari Kalimantan. Karena pulau itulah yang kini menjadi pemasok terbesar untuk pasar-pasar seluruh Indonesia. Namun sayang, populasi ikan gabus di alam sudah mulai berkurang, sehingga budidaya ikan ini perlu dikembangkan.

Lalu soal cara bagaimana budidaya ikan gabus? Ternyata budidaya ikan gabus tidak susah. Tidak perlu dengan pemijahan buatan, cukup dengan pemijahan alami. Tentu saja hal ini disebabkan karena ikan gabus sudah akrab dengan perairan kita. Salah satu instansi perikanan yang sudah berhasil adalah Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, Kalimantan Selatan. Artikel inipun diambil dari salah satu leafletnya.

Namun sebelum mengupas tentang cara budidayanya, alangkah lebih baiknya kita tahu dulu tentang biologinya, terutama habitat, kebiasaan hidup, kebiasaan makan dan sistematikanya. Di Kalimantan, ikan gabus banyak ditemukan di rawa-rawa daerah pedalaman, hidup di dasar perairan yang dangkal, bersifat carnivor atau pemakan daging, terutama ikan-ikan kecil yang mendekatinya. Ikan gabus bersifat musiman, memijah pada musim hujan dari Bulan Oktober hingga Desember.
Secara sistematika, seorang ahli perikanan, Kottelat (1993) memasukan ikan gabus ke dalam :
Kelas : Pisces;
Ordo : Labyrinthycy;
Famili : Chanidae;
Genus : Channa;
Spesies : Channa striata; sinonim dengan Ophiochephalus striatus.
Ikan gabus memiliki nama lain, yaitu gabus isilah Indonesia, Haruan merupakan nama daerah Kalimantan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris disebut Snake Head Fish.
Beda jantan dan betina
Jantan dan betina ikan gabus bisa dibedakan dengan mudah. Caranya dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Jantan ditandai dengan kepala lonjong, warna tubuh lebih gelap, lubang kelamin memerah dan apabila diurut keluar cairan putih bening. Betina ditandai dengan kepala membulat, warna tubuh lebih terang, perut membesar dan lembek, bila diurut keluar telur. Induk jantan dan harus sudah mencapai 1 kg.
Pemijahan
Pemijahan dilakukan dalam bak beton atau fibreglass. Caranya, siapkan sebuah bak beton ukuran panjang 5 m, lebar 3 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 3 – 4 hari; masukan air setinggi 50 cm dan biarkan mengalir selama pemijahan; sebagai perangsang pemijahan, masukan eceng gondok hingga menutupi sebagian permukaan bak; masukan 30 ekor induk betina; masukan pula 30 ekor induk jantan; biarkan memijah; ambil telur dengan sekupnet halus; telur siap untuk ditetaskan.
Untuk mengetahui terjadinya pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari. Telur bersifat mengapung di permukaan air. Satu ekor induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000 – 11.000 butir.
Penetasan telur
Penetasan telur dilakukan di akuarium. Caranya : siapkan sebuah akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm; keringkan selama 2 hari; isi air bersih setinggi 40 cm; pasang dua buah titik aerasi dan hidupkan selama penetasan; pasang pula pemanas air hingga bersuhu 28 O C; masukan telur dengan kepadatan 4 – 6 butir/cm2; biarkan menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Sampai dua hari, larva tidak perlu diberi pakan, karena masih menyimpan makanan cadangan.
Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva dilakukan setelah 2 hari menetas hingga berumur 15 hari, dalam akuarium yang sama dengan kepadatan 5 ekor/liter. Kelebihan larva bisa dipelihara dalam akuarium lain. Pada umur 2 hari, larva diberi pakan berupa naupli artemia dengan frekwensi 3 kali sehari. Dari umur 5 hari, larva diberi pakan tambahan berupa daphnia 3 kali sehari, secukupnya. Untuk menjaga kualitas air, dilakukan penyiponan, dengan membuang kotoran dan sisa pakan dan mengganti dengan air baru sebanyak 50 persen. Penyiponan dilakukan 3 hari sekali, tergantung kualitas air.
Pendederan
Pendederan I ikan gabus dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 200 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 4.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Sumber : http://world-aquaculture.blogspot.com/

RUMAH WALET SEBAGAI "PABRIK DOLAR",joni sepriyan

RUMAH WALET SEBAGAI "PABRIK DOLAR"

Di kota kecamatan Haurgeulis, Kab. Subang, Jawa Barat; ada seorang haji yang kaya raya. Tamu yang datang untuk bertemu dengannya pasti akan kebingungan. Sebab Pak Haji ini istrinya lima orang. Rumahnya sampai belasan. Suatu saat dia sedang di rumah istri pertamanya. Bisa juga di rumah empat istri lainnya. Tetapi bisa juga dia sedang berada di salah satu rumah yang jumlahnya belasan tersebut. Kadang-kadang dia sedang berada di luar negeri. Sebab sebagian besar anak-anaknya bersekolah di luar negeri, terutama di AS. Padahal Pak Haji ini tidak punya kantor. Tidak punya pabrik. Bahkan anak buahnya pun terhitung hanya puluhan orang. Dari manakah dia bisa menjadi kaya? Ternyata, rumah Pk Haji yang jumlahnya belasan itu, sebagian besar dihuni oleh burung walet (Collocalia fuciphaga). Masyarakat lazim menamakan burung ini sebagai burung layang-layang. Karena sehari penuh burung ini hanya akan terbang melayang-layang, seperti tidak mengenal capek. Rumah-rumah walet tersebut dalam setahun akan menghasilkan kurang lebih 1 kuintal sarang burung. Apabila harga sarang walet tersebut Rp 10.000.000,- per kg, maka penghasilan kotor Pak Haji ini akan mencapai Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah setahun). Atau tiap bulannya sekitar Rp 83.000.000,- Apabila untuk biaya macam-macam nilainya separo daripendapatan kotor, maka pendapatan bersih Pak Haji ini Rp 41.500.000,- per bulan. Padahal praktis dia tidak harus kerja apa pun.
Sarang walet, sebenarnya adalah lendir yang dikeluarkan oleh kelenjar yang terdapat pada leher burung. Di habitat aslinya, lendir ini akan dioleskan di tebing-tebing cadas dalam gua yang gelap gulita. Baik gua di bukit kapur maupun gua-gua di tebing pantai yang curam. Lendir itu akan segera mengering dan mengeras hingga membentuk sarang kecil mirip dengan potongan BH. Warna sarang bervariasi mulai dari putih, putih kekuningan, putih kecokelatan sampai putih kemerahan. Warna sarang sangat tergantung dari serengga yang dimakan si burung, juga sangat tergantung dari batu cadas yang ditempeli sarang tersebut. Kalau batu itu warnanya kecokelatan dan air merembes masuk ke jaringan sarang, maka sarang yang sebelumnya berwarna putih pun akan berubah menjadi kecokelatan. Di sarang itulah burung walet akan bertelur dan mengeraminya sampai menetas. Sarang inilah yang diambil oleh manusia kemudian setelah dibersihkan akan menjadi mata dagangan sangat penting. Sarang walet adalah menu khas di restoran cina papan atas. Soup sarang walet dipercaya bisa mendatangkan kekuatan pada yang menyantapnya, menyembuhkan berbagai penyakit serta meningkatkan stamina. Sarang walet itu sendiri, setelah dimasukkan ke dalam kuah soup lengkap dengan bumbunya, akan hancur. Hingga sosok fisik soup sarang walet hanyalah berupa cairan kental yang rasanya sangat gurih khas sarang walet.
Agroindustri sarang walet sebenarnya sangat aneh. Modal utama pelaku agroindustri hanyalah rumah. Meskipun habitat asli burung walet adalah gua, namun pada perkembangan lebih lanjut, burung ini juga mau menghuni rumah-rumah tua, terutama yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Rumah-rumah walet ini terdapat mulai dari kota kecamatan Labuhan di ujung barat pulau Jawa, tersebar merata di sepanjang pantai utara sampai ke kota kecamatan Muncar di ujung timur pulau Jawa. Di pantai selatan, walet lebih banyak tinggal di gua-gua di tebing pantai. Misalnya yang kondisinya masih sangat baik adalah di gua Karang Bolong di Kab. Kebumen, Jawa Tengah. Di pantai utara pulau Jawa yang landai, gua-gua kapurnya sudah banyak yang rusak. Walet yang kebingungan kehilangan tempat tinggal, menemukan banyak rumah-rumah etnis Cina, Arab dab Belanda yang kosong. Di ruang yang 100 % gelap itulah walet membangun sarang. Di pantai selatan gua-gua pantai yang curam itu kondisinya masih bagus. Meskipun tanpa penjagaan yang ketat, gua Sang Hyang Sirah di Ujung Kolon pun juga dijarah pencuri. Karena di sepanjang pantai selatan tidak dijumpai pemukiman dengan rumah-rumah besar yang kosong, maka waletnya pun tetap menghuni gua. Hingga konsentrasi rumah walet memang hanya terdapat di sepanjang pantai utara Jawa.
Dalam agroindustri sarang walet, pemilik rumah hanya bertugas menjaga agar habitat satwa ini tetap aman dari pencurian, penjarahan dan kerusakan karena faktor alam. Penjarahan sarang walet memang melibatkan jawara dan juga oknum bersenjata. Sebuah sarang walet yang mampu menghasilkan belasan kg, sekali panen dan dijaga oleh aparat bersenjata, masih juga bisa dijarah karena yang datang lebih banyak dengan senjata yang lebih modern. Kadang-kadang, seorang jawara (terutama di Banten), mampu masuk ke rumah walet melalui lubang yang hanya pas untuk kepala orang. Faktor alam yang perlu dijaga adalah ruang tempat walet bersarang harus gelap total, lembap dan tidak ada gangguan tikus, kecoak, semut dll. Walet akan bersarang di plafon rumah, terutama permukaan siku tempat balok penyangga papan-papan plafon tersebut. Pemilik rumah tidakperlu memberi pakan pada ternbak peliharaannya. Sebab walet itu pada siang hari akan terbang untuk mencari serangga yang merupakan menu sehari-harinya. Serangga ini akan melimpah pada pergantian gelap dengan terang di pagi serta sore hari. Saat itulah walet akan makan sekenyang-kenyangnya, untuk beterbangan seharian dan kembali ke sarang pada malam harinya. Pola hidup walet ini bertolak belakang dengan kelelawar pemakan serangga yang justru meninggalkan gua pada malam hari dan tidur pada siang harinya.
Karena makanan walet adalah serangga, maka habitat di sekitar rumah walet menjadi sangat penting. Kalau di sekitar kawasan tersebut masih banyak sawah atau hutan, maka serangga akan melimpah hingga pakan walet tersedia cukup. Ketika areal sawah dan tambak udang serta bandeng di Gresik, Jatim, diubah menjadi kawasan industri, maka walet pun hijrah ke arah barat. Seorang Haji yang sebelumnya bisa panen sampai 2 kuintal per tahun dari puluhan rumah waletnya, menjadi bangkrut karena panen tingal hanya belasan kg. Sementara pemilik rumah walet di Tuban, Bojonegara dan Rembang yang sebalumnya hanya panen beberapa ons, tiba-tiba panennya meningkat menjadi beberapa kg. Penggunaan pestisida dosis tinggi di sawah-sawah di kawasan Pantura di pulau Jawa, telah mengakibatkan populasi serangga pakan walet menurun. Penurunan populasi serangga pakan walet ini, akan berdampak pula terhadap penurunan produksi sarang walet. Hingga sebenarnya, agroindustri sarang walet bukan sekadar membangun rumah walet lalu menunggu datangnya burung penghasil dolar tersebut. Yang lebih penting lagi adalah menjaga kualitas lingkungan agar populasi serangga tetap tinggi.
Panen sarang walet, biasanya dilakukan sampai tiga kali dalam satu tahun. Biasanya panen terjadi pada saat populasi serangga sedang banyak-banyaknya. Pada saat ini secara naluriah burung akan kawin lalu terdorong untuk membangun sarang. Ketika sarang belum sempurna, segera dilakukan pemanenan. Panen sarang yang belum sempurna ini menghasilkan sarang dengan volume kecil, namun dengan kualitas yang sangat baik. Sebab sarang masih sangat bersih. Sesaat setelah sarang yang belum selesai itu dipanen, burung akan segera membangun sarang kembali. Kali ini harus dibiarkan burung betina itu bertelur. Sesaat setelah telur keluar, segera dilakukan panen "rampasan". Artinya sarang segera dipanen dan telur yang ada "dirampas". Dulu telur yang dipanen rampasan ini dibuang begitu saja. Lebih-lebih panen sarang darigua-gua di pantai selatan Jawa, telur walet ini akan langsung dibuang ke laut atau dimakan mentah-mentah oleh buruh pemanen. Sekarang telur-telur hasil panen rampasan ini banyak yang ditetaskan pada sarang burung seriti (Collocalia esculenta), atau dalam mesin tetas. Setelah sarang dan telurnya dipanen rampasan, maka burung akan kembali membangun sarang dan segera bertelur lagi. Kali ini, burung harus dibiarkan mengerami telurnya sampai menetas. Setelah telur menetas dan anak walet jadi besar lalu terbang, dilakukan panen ketiga. Hasil sarang dari panen ketiga ini kualitasnya sangat jelek karena tercampur buludan kotoran anak burung. Tetapi pola ini harus dilakukan agar populasi walet bertambah.
Agroindustri walet tergolong sangat menarik karena nilai sarang yang demikian tinggi. Karenanya banyak pihak yang akan tertarik untuk masuk ke sana. Pembangunan rumah walet tampak menjamur hampir di sepanjang Pantura Jawa. Namun yang benar-benar berhasil hanya satu dua. Para pakar walet yang menawarkan jasa konsultasi juga banyak. Biaya untuk konsultasinya tersebut biasanya sangat tinggi, namun dengan hasil yang belum pasti. Pembangunan rumah walet baru, bisa menelan biaya sampai milyaran rupiah. Minimal ratusan juta rupiah, termasuk untuk biaya konsultan. Yang paling rasional, sebenarnya membeli rumah-rumah yang dihuni oleh burung sriti. Ketika sriti tersebut bertelur, telur walet kita masukkan ke dalam sarangnya menggantikan telur sriti tersebut. Ketika telur menetas, maka jadilah anak walet. Menjelang anak walet itu terbang, lokasi sarang tersebut harus segera disekat agar menjadi gelap. Nanti kalau walet telah terbang, dia pasti kembali ke lokasi sarang sriti yang sekarang telah menjadi gelap. Sementara sritinya akan membangun sarang di lokasi yang masih terang. Sebab sama-sama genus Collocalia, habitat sriti dan walet berbeda. Walet menghendaki gelap total, sementara sriti menghendaki lokasi yang terang benderang. Meskipun sepintas tampak menarik, kita harus ekstra hati-hati untuk terjun ke agroindustri sarang walet. Sebab banyak sekali jebakan serta penipuan dalam dunia yang satu ini. (R) * * * 


LIMA PRODUK ANDALAN DARI AREN,joni sepriyan

LIMA PRODUK ANDALAN DARI AREN

Aren alias enau (Arenga pinnata) merupakan tanaman asli Indonesia yang penyebarannya mulai dari pantai barat India, Cina bagian selatan sampai ke kepulauan Guam di lautan Pasifik. Dia mampu tumbuh di kawasan dengan ketinggian mulai dari 0 m sd. 1.400 m. dpl. Ada lima produk utama yang dihasilkan tanaman aren. Pertama, bunga jantannya yang disadap akan menghasilkan nira untuk bahan gula merah (palm sugar, brown sugar). Dulu nira aren juga dibuat tuak dan saguer, minuman beralkohol. Di Manado, tuak yang disuling (didestilasi) akan menghasilkan "cap tikus" minuman yang lebih keras dari tuak. Kedua, buah mudanya (kolang-kaling), adalah menu istimewa untuk kolak saat berbuka puasa. Kolang-kaling juga biasa digunakan untuk minuman "ronde" serta manisan. Karena langkanya kolang-kaling, pada bulan puasa produk ini sering dipalsukan dengan nata de coco yang dicetak (dibentuk) mirip dengan kolang-kaling. Ketiga, ijuknya merupakan bahan tali, atap rumah serta filter resapan air pada bangunan modern. Kelebihan ijuk sebagai filter adalah tidak bisa lapuk. Keempat, batang aren (bagian luarnya) merupakan kayu keras (ruyung) yang juga tahan lapuk. Karenanya, ruyung lazim digunakan sebagai jembatan. Kerangka jembatan biasanya kayu johar (Cassia siamea) yang juga tahan lapuk, lalu ditutup dengan bilah-bilah ruyung. Kayu aren juga sangat populer sebagai tangkai cangkul (joran) dan alu (penumbuk padi dan hasil pertanian lainnya). Kelima, aren juga menghasilkan tepung "sagu" dari empelur batang menjelang tanaman berbunga. Dan justru produk inilah yang menjadi penyebab terkikisnya tanaman aren. Sebab sebelum tanaman menghasilkan biji untuk perkembangbiakan, sudah terlebih dahulu ditebang.
Penebangan aren untuk diambil tepungnya, meningkat tajam intensitasnya pada zaman Jepang (1942 – 1945), serta sekitar tahun 1960 – 1966. Pada tahun-tahun tersebut Indonesia mengalami krisis pangan. Karenanya, tepung aren memiliki nilai ekonomis tinggi. Terjadilah penebangan aren secara besar-besaran. Tepung aren bisa untuk bubur, dodol, kue tradisional (jongkong), pengganti nasi beras (ongol-ongol), kerupuk dan soun. Ketika terjadi krisis pangan tersebut, tepung aren dijual di pasar-pasar traisional maupun warung-warung kecil di pedesaan. Tepung aren dijual dalam bentuk bulatan (bola) sebesar kepalan tangan. Pada tahun-tahun tersebut, hampir semua tanaman sumber karbohidrat termanfaatkan. Aren menjadi alternatif utama karena dari satu batang tanaman dapat dihasilkan tepung sampai ratusan kg. Rendemen aren bisa lebih tinggi dari sagu karena proses penggilingan dan penepungannya dilakukan di pabrik. Pengangkutan dari lokasi penebangan ke jalan raya terdekat dilakukan dengan memotong batang sepanjang 1 m. memberinya pasak kayu sebagai poros di ke dua sisi, lalu menariknya (menggelindingkannya) dengan bantuan bambu. Setiba di jalan yang bisa dilalui truk, batang-batang aren itu dinaikkan untuk diangkut ke lokasi penggilingan. Proses penggilingan umbut aren dan pelarutan hasil gilingan dengan air dan pengendapannya, sama dengan proses penepungan sagu.  
Sebenarnya selain lima produk utama tadi, tulang daun aren juga menghasilkan lidi kasar yang bisa digunakan untuk sapu, keranjang serta berbagai keperluan. Daun mudanya (kaung), sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai penggulung rokok di Jawa Barat. Dulu, ketika korek api modern belum diproduksi massal seperti sekarang, bulu-bulu halus dan tebal pada pelepah mudanya (kawul), merupakan bahan pembuat api. Caranya, baja dan batu api (titikan), saling dipukulkan hingga menghasilkan percikan api. Percikan tersebut diarahkan ke kawul yang akan segera terbakar. Kawul lalu ditiup-tiup hingga menghasilkan nyala api. Dulu, ketika populasi aren masih sangat banyak, sebenarnya masyarakat juga sudah memanfaatkan tepung batang aren. Hanya saja, penebangan dilakukan sangat selektif untuk tujuan penjarangan. Karenanya, populasi tanaman di alam tetap banyak, hingga terjadi keseimbangan antara tanaman yang ditebang serta mati tua, dengan tanaman muda yang tumbuh secara alami. Penyusutan populasi tanaman aren di alam, sebenarnya juga disebabkan oleh pemanfaatan biji kolang-kaling. Karena nilai ekonomisnya tinggi, maka satu tandan buah aren akan dipotong semua untuk diambil kolang-kalingnya. Pengambilan kolang-kaling dilakukan pada saat buah aren masih sangat muda. Seperti halnya pada pengambilan kelapa maupun siwalan (lontar) muda. Akibatnya tidak akan pernah ada buah yang menjadi tua untuk regenerasi.
Sebelum zaman Jepang, ketika populasi aren masih banyak, pengambilan kolang-kaling muda pasti masih menyisakan tandan-tandan yang akan dibiarkan menjadi tua. Setelah masak, buah kolang-kaling akan menjadi santapan musang. Musang sangat senang akan buah kolang-kaling yang berwarna kuning ini. Meskipun kulit dan daging buah ini mengandung kristal oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal luar biasa pada kulit manusia. Di dalam lambung dan usus musang, biji kolang-kaling "terfermentasi" dengan sempurna dan akan tetap utuh sampai menjadi fases. Kotoran musang dengan biji kolang-kaling tua ini akan tersebar ke mana-mana lalu tumbuh menjadi individu tanaman baru. Begitulah cara aren berkembangbiak. Hingga orang tua-tua selalu mengajarkan bahwa musanglah yang telah menanam aren. Selain karena kolang-kaling yang  habis dipetik muda, musang sebagai "alat fermentasi" serta penyebar biji pun, populasinya juga menyusut tajam bahkan di beberapa tempat sudah punah. Akibatnya, regenerasi aren juga terhambat atau terhenti sama sekali. Balai Penelitian Kelapa (Balitka) dan Dinas Pertanian Jawa Barat, pernah mencoba meneliti kemungkinan untuk menyemai biji aren secara massal lalu menyebarkan tanaman hasil semaian ini ke masyarakat untuk penghijauan. Ini merupakan satu-satunya cara mengembalikan populasi aren yang sekarang ini telah menyusut tajam dan nyaris punah.
Sebagai penghasil gula merah, aren memiliki potensi yang jauh lebih tinggi dari kelapa maupun lontar. Pertama, karena secara keseluruhan, hasil nira dari pohon aren, lebih tinggi dari kelapa dan lontar. Kedua, volume nira dari satu bunga aren yang bisa mencapai 10 liter dalam 24 jam, juga lebih tinggi dibanding kelapa dan lontar yang hanya sekitar 3 liter per 24 jam. Penyadapan nira aren juga lebih mudah karena yang diiris adalah tangkai bunganya. Sementara pada kelapa dan lontar yang diiris adalah malai bunganya (manggar). Makin tahun, pohon kelapa dan lontar akan tumbuh makin tinggi. Hingga penyadapan akan makin susah. Tanaman aren, setelah mencapai ketinggian tertentu akan berhenti tumbuh (tidak lagi bertambah tinggi). Pada saat itulah bunga betina akan keluar dari pangkal pelepah tertinggi, disusul oleh bunga jantan pada pelepah di bawahnya. Bunga betina akan menjadi buah (kolang-kaling) dan bunga jantan bisa disadap untuk menghasilkan nira sebelum terlanjur mekar. Selanjutnya, bunga jantan ini akan keluar secara terus-menerus sepanjang tahun, pada ruas-ruas bekas pelepah di bawahnya. Hingga pada akhir hayatnya, tanaman aren akan mengeluarkan bunga jantan pada ruas bekas pelepah paling bawah yang tingginya satu sampai dua meter dari permukaan tanah. Selanjutnya tanaman akan mati. Aren seperti halnya gebang, adalah palem tunggal yang periode hidupnya terbatas. Beda dengan kelapa dan lontar yang akan tumbuh terus, hampir tanpa batas. Juga beda dengan sagu dan nipah yang merupakan palem berumpun dan berkembangbiak dengan anakan. Karena ketinggiannya terbatas, penyadapan aren jauh lebih mudah, tetapi dengan hasil nira yang lebih banyak dari kelapa maupun lontar.
Setelah mati pun, aren masih menghasilkan kayu yang kualitasnya tidak ada duanya. Meskipun volume kayu aren ini sangat kecil. Sebab dari sekitar 50 cm diameter batang aren, bagian pinggir yang keras itu hanyalah setebal 5 sd. 7 cm. Pada bagian pangkal batang,  ketebalan ruyung ini bisa mencapai lebih dari 10 cm. Kualitas ruyung bagian pangkal batang juga lebih bagus, lebih padat dan keras. Makin ke atas, ketebalan ruyung makin berkurang. Pada bagian paling ujung, ketebalan ruyung hanya sekitar 3 sd. 4 cm, dengan kualitas yang lebih rendah. Kayu aren mirip dengan kayu kelapa, terdiri dari serat-serat dengan diameter 2 mm. yang satu sama lain terekat dengan sangat kuat. Rekatan serat-serat ruyung yang berasal dari bagian pangkal batang, sangat kuat dan rapat. Makin ke atas, rekatan ruyung ini makin longgar. Warna serat ruyung adalah hitam, hingga untuk bahan meubel pun sebenarnya memiliki keindahan yang luarbiasa. Kayu aren memiliki kelas keawetan dan kekuatan setara dengan kayu ulin. Sayangnya, dari satu batang aren, volume ruyungnya sangat sedikit. Sebab bagian tengah batang yang sekitar 80% dari volume totalnya, merupakan "gabus" dengan serat-serat kasar yang kosong. Pada waktu batang aren belum berbunga, bagian gabus ini penuh dengan pati. Pati inilah yang oleh tanaman akan diubah menjadi gula dan dikeluarkan secara bertahap dalam bentuk nira aren.
Hasil aren yang tidak ada duanya adalah ijuk. Produk ini merupakan khas hasil tanaman aren. Ijuk adalah serat pada pangkal pelepah daun yang terjalin melingkari batang. Ijuk berguna untuk melindungi bagian pucuk tanaman yang masih sangat muda. Serat ijuk berwarna hitam dan tidak bisa lapuk. Tali ijuk memiliki kekhasan karena bisa mengikat erat bambu utuh. Tali-tali lain, misalnya tali dari serat sabut kelapa, serat kulit kayu, serat rami atau serat sintetis (plastik) tidak pernah bisa mengikat bambu utuh. Hingga bangunan-bangunan kuno yang terbuat dari bambu, pasti menggunakan tali ijuk. Serat aren ini juga digunakan sebagai atap rumah. Model atap tumah minangkabau asli, selalu beratapkan ijuk. Demikian pula halnya dengan perumahan Badui Dalam. Pada bangunan-bangunan modern, ijuk berfungsi sebagai filter pada sumur resapan. Termasuk lapangan-lapangan golf selalu memanfaatkan ijuk untuk menyaring endapan lumpur agar tidak hanyut (larut) bersama dengan aliran air. Meskipun bisa tumbuh baik mulai dari ketinggian 0 m. sd. 1.500 m. dpl;  aren baru akan tumbuh optimal di dataran menengah, mulai dari 200 m. sampai dengan dataran tinggi 1.000 m. dpl. Terutama aren cocok untuk ditanam di lereng-lereng terjal serta jurang-jurang yang curam. Hingga tanaman ini, bersamaan dengan bambu, sangat cocok untuk penghijauan di pegunungan di Jawa. Kalau bambu dan juga aren ini dimanfaatkan, maka masyarakat bisa memperoleh pendapatan dari nira, ijuk, tepung, kolang-kaling dan ruyung, sementara kawasan tersebut akan selamat dari bencana tanah longsor. (R) ***

POTENSI SUKUN SEBAGAI BREAD FRUIT'S,jonisepriyan

POTENSI SUKUN SEBAGAI BREAD FRUIT'S

Tahun 1520, awak kapal layar yang dipimpin oleh pelaut Spanyol Fernao de Magalhaes (1470 – 1521), mengarungi samudera Pasifik yang tenang tetapi sangat luas. Kapal-kapal ini  sudah setahun lebih mengarungi lautan. Berangkat dari Spanyol tahun 1919, mereka menyebeberangi Atlantik, meyusuri pantai timur Amerika Latin dan melewati celah sempit di ujung selatan benua Amerika yang kemudian disebut sebagai selat Magalhaes atau Magellanes. Di samudera Pasifik ini perbekalan gandum mereka telah habis. Di pulau-pulau Pasifik itulah orang-orang Eropa untuk pertama kalinya menjumpai buah bundar dengan diameter selitar 15 cm, yang apabila dipanggang rasanya mirip dengan roti. Berbulan-bulan mereka terpaksa makan buah roti tadi sebelum akhirnya mencapai daratan Filipina dan kepulauan Maluku. Magalhaes sendiri kemudian tewas dalam pertempuran dengan penduduk asli Mactan di Filipina. Ekspedisi mengelilingi dunia untuk pertama kalinya ini berhasil. Dari 5 kapal yang berangkat, tinggal satu yang bisa kembali ke Spanyol. Dari 265 awaknya (termasuk Magalhaes) hanya tinggal 19 yang bisa selamat pulang ke rumah. Salah satu hasil ekspedisi tersebut adalah dikenalnya bread fruit's yang asli Asia Tenggara oleh masyarakat Eropa.
Yang mereka kenal sebagai bread fruit's tadi adalah buah sukun (Artocarpus altilis), yang sudah sangat akrab bagi penduduk Indonesia. Sukun memang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, tetapi penyebarannya kemudian meluas sampai ke kepulauan Pasifik. Di kepulauan Pasifik, buah sukun berkembang menjadi makanan pokok bersama dengan talas, kelapa dan ikan serta hasil laut lainnya. Tanaman sukun berupa pohon setinggi 20 sd. 30 m. Batangnya lurus dan berkulit licin. Percabangannya menyamping dengan pola yang agak teratur. Daunnya lebar-lebar dengan panjang sekitar 70 cm. dan lebar 50 cm. Permukaan daun bagian bawah berbulu halus. Bentuk daun lonjong dengan tepian membelah sampai agak dalam. Ujung tiap belahan maupun pucuknya berbentuk meruncing. Terdapat banyak forma sukun. Ada forma yang berbiji dan disebut sebagai keluwih atau timbul, ada pula yang tidak berbiji dan disebut sebagai sukun. Forma yang tidak berbiji ini juga cukup banyak variannya. Mulai dari yang berbuah kecil, berbentuk agak lonjong dengan permukaan kulit buah berduri kecil-kecil, sampai ke yang berukuran besar berbentuk bundar dengan permukaan kulit buah halus.
Sukun sebenarnya termasuk katagori buah majemuk. Pada keluwih, juga nangka dan cempedak yang masih satu keluarga dengan sukun, segmen-segmen buah majemuk itu masih terpisah satu sama lain, meskupun kulitnya menyatu menutup seluruh segmen buah tersebut. Pada buah sukun, segmen-segmen itu karena tidak berbiji tampak menyatu, dengan kandungan pati yang relatif besar. Tanaman sukun berumah satu (bunga jantan dan betina terdapat dalam satu individu tanaman). Buah sukun berasal dari bunga betina yang sudah berbentuk bundar sejak keluar dari kelopak (seludang) bunga. Sementara bunga jantannya berbentuk pipih memanjang. Setelah serbuk sarinya keluar bunga jantan ini akan berubah warna dari hijau menjadi kecokelatan, layu lalu berjatuhan dibawah tajuk pohon. Oleh masyarakat tradisional, bunga jantan sukun ini akan dipungut, dikeringkan dan dibakar pada malam hari sebagai pengusir nyamuk. Bunga jantan sukun ini akan terbakar sedikit demi sedikit persis seperti obat nyamuk bakar modern. Sementara itu bunga betinanya akan berkembang menjadi buah sukun.
Pada forma keluwih, perkembangbiakan tanaman dilakukan secara generatif melalui bijinya. Pada forma sukun, perkembangbiakan dilakukan secara vegetaatif melalui stek akar. Ketika proyek penghijauan sedang gencar-gendarnya dilakukan pemerintah pada pertengahan tahun 1990an, maka penangkar benih sukun di Cilacap, Jawa Tengah akan memborong pohon sukun yang berukuran relatif besar. Pohon itu segera mereka tebang. Seluruh tanah di sekitar pohon akan dibongkar hingga seluruh akar terambil. Akar-akar itu dipotong sekitar 5 sd. 10 cm. diberi fungisida/bakterisida, direndam sebentar pada zat perangsang tumbuh (ZPT) seperti Atonik, Dekamon dll, lalu disemai di bak-bak pasir yang dikerudungi (disungkup) plastik untuk menjaga kelembapan udara. Setelah tunas (pucuk) tanaman dan akar tumbuh, maka semai tadi akan dipindah ke polybag. Kadang-kadang ada juga penangkar sukun yang langsung menyemai stek akar ini di polybag dengan resikomortalitas yang tinggi. Hanya dengan cara inilah tanaman sukun bisa dibudidayakan. Tanaman lain yang juga sering dibudidayakan dengan stek akar adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia) dan sono keling (Dalbergia latifolia). Meskipun dua tanaman penghasil kayu ini juga bisa dikembangbiakkan secara generatif dengan bijinya.
Secara alamiah, ketika tanah di sekitar tanaman sukun tumbuh, terkikis oleh air hujan; maka akar pun akar tampak. Akar ini kemudian akan luka karena tergores kuku binatang, cangkul, terkena batu, kayu yang hanyut dll. Bagian akar yang menyembul ke permukaan tanah dan kemudian terluka ini, akan segera menumbuhkan tunas sebagai individu tanaman baru. Oleh masyarakat, benih sukun alami ini akan diambil untuk ditanam di lokasi lain. Ketika kebutuhan benih ini meningkat, masyarakat sengaja menggali akar sukun, mengangkatnya ke permukaan tanah dan sengaja memotongnya. Bagian yang terpotong ini (yang terputus dari batang) akan menumbuhkan individu tanaman baru. Lama kelamaan ada tuntutan permintan benih sukun secara massal sampai puluhan bahkan ratusan ribu tanaman. Pada saat itulah tanaman sukun dewasa dibongkar total untuk diambil seluruh akarnya. Pertama-tama tanaman sukun yang dibongkar hanyalah di sekitar kota Cilacap. Lama kelamaan setelah tanaman di sekitar kota ini habis, para penangkar pun berburu pohon sukun sampai ke Purwokerto, dan kota-kota lain di sekitar Cilacap.
Trend penghijauan oleh pemerintah pusat maupun daerah dengan tanaman sukun, sebenarnya bukan dengan pertimbangan untuk memanfaatkan buahnya sebagai pangan alternatif. Isu yang selaluberedar di masyarakat adalah, tanaman sukun bisa "mendatangkan" air. Pengertian mendatangkan air yang mereka kemukakan adalah,  kalau kita menanam sukun maka di lokasi itu akan keluar mataair. Ini tentunya tidak benar. Tetapi penghijauan dengan sukun pasti akan lebih baik dibanding dengan akasia atau albisia misalnya. Akasia yang bukan tanaman tropis itu bardaun keras hingga serasahnya sulit hancur. Sementara albisia yang berdaun majemuk kecil-kecil itu juga kurang bisa menahan curahan air hujan. Dua tanaman ini merupakan penghasil kayu yang selang lima tahun kemudian akan ditebang. Sukun menjadi pilihan ideal karena daunnya sangat lebar dan setelah jatuh mudah hancur. Tanaman ini juga bukan penghasil kayu melainkan buah. Hingga akan ditanam untuk jangka waktu puluhan tahun. Pertimbangan "untuk diambil buahnya" inilah mestinya yang dijadikan alasan, mengapa tanaman sukun dipilih untuk penghijauan.
Sebagai tanaman asli Indonesia, sukun toleran dengan variasi agroklimat yang agak ekstrim. Dia tahan ditanam di kawasan basah  (bogor) maupun kering (NTT), dataran rendah (Jakarta) maupun dataran tinggi (Cipanas). Lahan berpasir, tanah liat, vulkanis, cadas yang berbatu-batu, gambut tidak menjadi masalah bagi tanaman sukun. Toleransi ketinggian tempat mulai dari 0 sampai 1.000 m. dpl. Hal yang tidak bisa di tolerir oleh tanaman sukun adalah ketersediaan sinar matahari. Hingga sukun tidak mungkin ditanam bersamaan dengan tanaman keras lainnya dengan jarak rapat. Tajuk tanaman sukun dewasa ( di atas 10 tahun) akan memerlukan ruang peling sedikit 100 m2 (10 X 10 m). Benih sukun sangat mudah diperoleh di kios-kios penjual tanaman dengan variasi harga antara Rp 5.000,- sd. Rp 25.000,- tergantung ukuran benih. Sukun akan mulai berbuah pada umur antara 4 sd. 6 tahun setelah tanam. Pemupukan yang diperlukan hanyalah urea pada saat tanaman belum berbuah dan NPK pada saat sudah berbuah, dengan dosis disesuaikan dengan umur dan produktivitas tanaman. Kisarannya antara 0,25 sd. 0,5 kg. urea per tanaman per tahun dan 1 sd. 5 kg. NPK per tanaman per tahun. Pemberiannya dipecah menjadi 3 sd. 4 kali. Caranya dengan membuat parit di batas tajuk, menaburkan pupuk lalu menimbunnya kembali.
Tanda buah sukun sudah tua adalah, ukurannya sudah optimum, kulit buahnya tampak lebih licin, duri-durinya (pada forma berduri) mulai renggang. Pada forma berkulit licin, warba buah akan berubah dari hijau menjadi kkekuning-kuningan. Sementara pada forma yang berduri, perubahan warna ini tidak terlalu tampak. Forma yang berduri, meskipun buahnya kecil-kecil, rasanya justru lebih lezat. Daging buahnya lebih padat dan lebih "liat" dibandingkan dengan berkulit licin yang ukuran buahnya lebih besar. Forma berkulit licin ini, daging buahnya justru lebih lembek, meskipun sudah dipanen tua. Cara mengkonsumsi sukun sangat mudah, yakni dengan mengupas kulitnya sebagamana kita mengupas nangka muda, talas atau ubi jalar. Buah dipotong-potong seperti pada pemotongan semangka. Selanjutnya potongan buah ini bisa dikukus, dipanggang atau digoreng sesuai dengan selera. Pada penggorengan, bisa langsung digoreng baru pada saat makan ditaburi garam, bisa pula sebelum digoreng diberi garam dan bumbu ketumbar/bawang putih yang dihancurkan dan diberi sedikit air. Rasa sukun forma beduri yang dipanggang sangat lezat. Benar-benar seperti roti. Tetapi kalau selama berbulan-bulan diatas kapal harus makan "bread fruit's" pasti akan bosan juga. (R) * * *      

usaha PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

Harga ikan asin gabus, tergolong paling tinggi di antara ikan asin lainnya. Gabus dan sepat, merupakan dua ikan air tawar yang lazim diasinkan. Sepat yang diasinkan, paling banyak berasal dari Kalimantan. Baik sepat kecil, sedang, maupun ukuran besar. Sedagkan gabus asin, bisa berasal dari mana-mana. Tetapi kebanyakan dari Jawa dan Sumatera. Selain dikenal sebagai ikan asin, gabus juga biasa dipanggang seperti halnya tuna dan tongkol, sebelum dipasarkan. Di kota-kota kecamatan di sekitar waduk, danau, setu dan rawa diJawa, akan kita jumpai ikan nila (mujair), lele, sepat, betik, wader, belut, lele, dan gabus. Di Jawa Tengah, gabus biasa disebut kotes, kutuk, atau deleg. Di Kalimantan dinamakan ikan toman.
Daging ikan gabus tergolong bercitarasa sangat lezat. Jauh lebih lezat dibanding ikan lele. Sayangnya, daging ikan gabus berduri kecil-kecil, seperti halnya daging bandeng dan ikan mas. Meskipun duri lembut dalam daging gabus, tidak sebanyak pada ikan mas dan bandeng, karena terkonsentrasi hanya pada bagian atas. Duri dalam daging ikan gabus yang akan mengganggu ketika disantap ini, tetap tidak mengurangi minat para penggemarnya. Hingga permintaan gabus asin terus saja tetap tinggi, dibanding dengan ikan asin lainnya. Di pasar tradisional maupunpasar swalayan, ikan asin gabus tergolong paling tinggi harganya dibanding dengan ikan asin lain.
Selama ini, produksi gabus asin masih mengandalkan tangkapan dari alam, terutama dari sungai, waduk, danau, setu dan rawa-rawa di Jawa serta Sumatera. Penangkapan gabus dari alam ini masih dilakukan secara manual dengan jaring, jala dan pancing. Ikan gabus ukuran di atas 0,5 kg bobot segar (ketika belum diasin), umumnya berasal dari hasil pancingan. Sementara yang kecil-kecil berasal dari jaring dan jala. Proses pengasinan gabus, selalu dilakukan di lokasi penangkapan. Terlebih bila volume ikan yang ditangkap cukup besar. Harga ikan asin gabus ini sedemikian tingginya, hingga para pedagang sering mengasinkan ikan tangkapan ini, meskipun dalam jumlah satu atau dua ekor saja.
# # #
Selain merupakan tangkapan dari alam, gabus juga merupakan produk sampingan dalam budidaya ikan air tawar maupun payau. Sebagai predator, gabus akan makan apa saja. Mulai dari kodok, udang, belut, ikan kecil, bahkan kadang-kadang tikus pun ditangkapnya. Sebab gabus bisa tahan berada di daratan dalam jangka waktu agak lama, karena adanya “labirin” yang bisa menangkap oksigen langsung dari udara, selain tentu saja punya insang. Ikan “hama” ini biasanya dijumpai dalam volume yang cukup besar, terutama di tambak udang. Baik udang air tawar (udang galah) maupun udang air payau (udang putih dan windu). Kadang-kadang para petambak membiarkan gabus ini tetap ada di tambak sebagai ikan hama, sebab nilai ekonomisnya juga cukup baik.
Gabus belum bisa diproduksi secara massal sebagaimana halnya lele, ikan mas, nila dan gurami, karena belum bisa dipijahkan secara buatan. Secara teknis, pemijahan buatan pada gabus sama saja dengan ikan lain, terutama sangat mirip dengan lele. Namun secara aplikatif, teknologi pemijahan ini belum bisa diterapkan, karena belum didukung oleh ketersediaan induk, terutama induk betina. Juga belum didukung oleh kesiapan pasar, yakni para peternak yang akan membesarkannya. Sebab beda dengan lele dumbo yang sudah bisa mengkonsumsi pelet, maka gabus sama dengan lele lokal, hanya mau pakan alami. Baik berupa hewan hidup, maupun yang sudah mati. Inilah yang menjadi penyebab, mengapa gabus masih belum bisa dimassalkan sebagaiana lele dumbo.
Meskipun pemijahan gabus secara buatan masih belum dilakukan secara massal untuk tujuan komersial, namun pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan. Sebelum teknik pemijahan buatan bisa diaplikasikan ke ikan mas, maka pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan untuk tujuan komersial. Bahkan teknik pemijahan buatan pada lele, baru bisa dilakukan setelah kedatangan lele dumbo. Sementara lele lokal sampai sekaranf tetap belum bisa dibudidayakan. Hingga pemijahan gabus secara alami tetap bisa dikembangkan, selain tetap mengandalkan upaya penangkapan benih dari alam secara manual.
Karena di alam aslinya gabus hidup di perairan dengan lubuk-lubuk yang dalam dan gelap, maka kolam tempat pemijahan gabus memerlukan lubang-lubang buatan. Pemijahan lele lokal yang dikembangkan pada awal tahun 1980an, menggunakan gentong-gentong yang ditaruh miring di dalam kolam. Gentong yang dimiringkan inilah yang dijadikan sarang untuk berpijah bagi lele. Upaya ini relatif berhasil digunakan untuk lele lokal. Tetapi teknik tersebut kemudian tidak berkembang, karena tidak lama kemudian diintroduksi lele dumbo yang bisa dipijahkan secara buatan, serta mau diberi pelet. Sejak itu lele lokal tersisihkan seperti halnya mujair.
# # #
Gabus adalah ikan air tawar dari keluarga Channidae. Barangkali karena sosoknya mirip ular, maka gabus juga disebut sebagai snakeheads. Ada dua  genera snakeheads, yakni genera Channa yang hidup di Asia dan Parachanna yang terdapat di Afrika. Dari dua genera itu, diperkirakan ada sekitar 30 spesies ikan gabus dengan perbedaan ukuran yang sangat mencolok.Yang paling kecil adalah Channa gachua dengan panjang 25 cm, dan digolongkan sebagai “dwarf snakehead”. Kebanyakan spesies gabus berukuran 60 sd. 100 cm. Dan hanya dua spesies yang mencapai ukuran di atas 1 m. dengan bobot 6 kg, yakni Channa marulius dan Channa micropeltes.
Dari 30 spesies snackhead tersebut, diantaranya adalah: Borna snackhead (Channa amphibeus), Northern snackhead (Channa argus), Channa asiatica, Channa aurantimaculata, Channa bankanensis, Barca snackhead (Channa barca), Rainbow snackhead (Channa bleheri), Channa burmanica, Channa cyanospilos, Channa gachua, Channa harcourtbutleri, Forest snackhead (Channa lucius), Channa maculata, Channa marulioides, Great snackhead (Channa marulius), Channa melanoptera, Black snackhead (Channa melasoma), Giant snackhead (Channa micropeltes), Channa nox, Walking snackhead (Channa orientalis), Channa panaw, Channa pleurophthalmus, Spotted snackhead (Channa stewartii), Snackhead murrel (Channa striata), Parachanna africana, Parachanna insignis, Obscure snackhead (Parachanna obscura).
Selama ini masyarakat menyebut semua snakehead dengan nama gabus. Padahal, gabus kita sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. Mulai dari Great snackehead (Channa marulius), Snackhead murrel (Channa striata), Giant snackhead (Channa micropetes), Forest snackhead (Channa lucius) dan Channa gacua. Tiga spesies gabus yang hidup di perairan Indonesia, Great snackehead, Snackhead murrel, dan Giant snackhead, bisa mencapai panjang 1 m. Forest snackhead hanya bisa mencapai panjang 40 cm, dan Channa gacua merupakan snakehead paling kecil, dengan panjang maksimun 20 cm. Channa gacua inilah yang di Jawa Tengah disebut “kotes”.
Great snackehead, pernah diberi nama Ophiocephalus striatus (Bloch, 1793) serta Ophiocephalus vagus (Peters, 1868). Namun nama yang sampai sekarang digunakan adalah Channa marulius (Hamilton, 1822). Dengan panjang bisa mencapai lebih dari 1 m, dan bobor lebih dari 6 kg, Channa striata, Channa marulius, dan Channa micropetes, potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya. Sifatnya sebagai ikan predator, bukan merupakan halangan untuk menjinakkannya hingga mau mengkonsumsi pakan buatan. Sebab lele dumbo dan patin pun, sebenarnya juga ikan carnifora. Demikian pula sidat jepang dan kodok Bullfrog dari AS, yang sekarang sudah bisa dibudidayakan secara intensif.
# # #
Sebelum upaya pemijahan serta penciptaan pakan buatan berhasil dilakukan, gabus tetap bisa dibudidayakan secara semi intensif. Caranya, pemijahan dilakukan secara alami, dengan kolam mendekati habitat asli gabus. Selanjutnya burayak gabus dikumpulkan, untuk dibudidayakan secara khusus dalam bak, dengan pakan intensif, aerator, serta sirkulasi air. Setelah mencapai ukuran di atas 10 cm, barulah anak gabus ini dibesarkan di kolam yang airnya mengalir. Sebab meskipun gabus mampu bernapas dengan labirinnya dalam lumpur, namun lumpur sungai, danau atau rawa, beda dengan lumpur kolam yang penuh dengan endapan sisa pakan serta kotoran.
Hingga kolam pembesaran gabus, mutlak memerlukan sirkulasi air. Pakan dalam produksi gabus semi intensif, bisa berupa limbah peternakan. Misalnya ayam atau itik yang mati, usus, jeroan ikan dll. Bisa pula agroindustri pembesaran gabus ini dikombinasikan dengan peternakan cacing atau bekicot. Limbah organik akan diolah oleh cacing dan bekicot menjadi kompos, sementara cacing dan bekicotnya akan menjadi makanan gabus. Cara lain adalah, dengan memelihara nila atau mujair biasa. Bukan nila yang 100% jantan. Sebab nila akan mudah sekali berkembangbiak. Anak-anak nila inilah yang akan menjadi pakan alami gabus.
Ikan mas pun, sebenarnya bisa menjadi pakan gabus. Sebab harga ikan mas, jauh lebih murah dibanding gabus. Caranya, kita bisa mengambil benih ikan mas ukuran 10 cm, kemudian dimasukkan ke kolam gabus. Secara periodik, ke dalam kolam gabus itu dimasukan anak ikan mas. Kalau harga ikan mas tidak terpaut banyan dibanding gabus, maka bisa dicari alternatif pakan lainnya. Bisa tawes, karper, patin, jambal air tawar dan lain-lain, yang harganya jauh di bawah gabus. Dengan cara seperti ini, petani ikan akan bisa meraih keuntungan lebih besar.Kalau hasil panen gabus melimpah dan harganya jatuh, masih bisa diasinkan, dengan nilai tambah bagi petaniikan. (R) # # #
About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

  1. yayat p says:
    sy berminat budidaya ikan gabus. Adakah petani/peternak yg bs dikunjungi untuk sharing? Trim’s
  2. chandra aja says:
    dan bobor lebih dari 6 kg, Channa striata, Channa marulius, dan Channa micropetes,
    bobot mas… bukan bobor, tapi.. itu aja koreksinya, terimakasih untuk bahan bacaannya, ini gabus udah makanin benih lele saya.. jadi saya pelajari. thanks yo.. sukses buat kita berdua…!!
  3. ponimanthang says:
    Dear all
    saya berminta untuk membeli ikan gabus dalam keadaan bersih.
    jumlah nya cukup besar 3 ton .
    jika ada silakkan hub saya di no 081220009091
    terima kasih]
    • Adil Darme Ysae says:
      selamat siang sy Nama Adil Darme yase sy punya sumber bahan baku ikan Gabus dalam jumlah besar, bs hubungi sy di No 085237272743 tks
  4. rizalrambe says:
    itu 3 ton kontrak atau sekali beli.
  5. seno says:
    pak ponimathang itu ikan gabus asin apa tawar biasa
  6. kang ayo says:
    BISA BAGI-BAGI CARA MEMELIHARANYA NGGAK ? TRIMA KASIH SEBELUMNYA
  7. sandy says:
    saya perlu ikan gabus hidup ukuran 1/2 kg setiap hari butuh 50 ekor…hub saya di sandyliga@gmail.com
    • diky says:
      hi sandy,.. aku ada bisa suply ikan gabus segar seperti permintaan , please provide detail address , contact,ect or please contact us for further information. thanks
  8. Zeka Sartika says:
    sekedar info di balai budidaya ikan air tawar mandiangin kalimantan selatan ikan gabus sudah bisa di pijahkan dan di budidayakan

usaha PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

Harga ikan asin gabus, tergolong paling tinggi di antara ikan asin lainnya. Gabus dan sepat, merupakan dua ikan air tawar yang lazim diasinkan. Sepat yang diasinkan, paling banyak berasal dari Kalimantan. Baik sepat kecil, sedang, maupun ukuran besar. Sedagkan gabus asin, bisa berasal dari mana-mana. Tetapi kebanyakan dari Jawa dan Sumatera. Selain dikenal sebagai ikan asin, gabus juga biasa dipanggang seperti halnya tuna dan tongkol, sebelum dipasarkan. Di kota-kota kecamatan di sekitar waduk, danau, setu dan rawa diJawa, akan kita jumpai ikan nila (mujair), lele, sepat, betik, wader, belut, lele, dan gabus. Di Jawa Tengah, gabus biasa disebut kotes, kutuk, atau deleg. Di Kalimantan dinamakan ikan toman.
Daging ikan gabus tergolong bercitarasa sangat lezat. Jauh lebih lezat dibanding ikan lele. Sayangnya, daging ikan gabus berduri kecil-kecil, seperti halnya daging bandeng dan ikan mas. Meskipun duri lembut dalam daging gabus, tidak sebanyak pada ikan mas dan bandeng, karena terkonsentrasi hanya pada bagian atas. Duri dalam daging ikan gabus yang akan mengganggu ketika disantap ini, tetap tidak mengurangi minat para penggemarnya. Hingga permintaan gabus asin terus saja tetap tinggi, dibanding dengan ikan asin lainnya. Di pasar tradisional maupunpasar swalayan, ikan asin gabus tergolong paling tinggi harganya dibanding dengan ikan asin lain.
Selama ini, produksi gabus asin masih mengandalkan tangkapan dari alam, terutama dari sungai, waduk, danau, setu dan rawa-rawa di Jawa serta Sumatera. Penangkapan gabus dari alam ini masih dilakukan secara manual dengan jaring, jala dan pancing. Ikan gabus ukuran di atas 0,5 kg bobot segar (ketika belum diasin), umumnya berasal dari hasil pancingan. Sementara yang kecil-kecil berasal dari jaring dan jala. Proses pengasinan gabus, selalu dilakukan di lokasi penangkapan. Terlebih bila volume ikan yang ditangkap cukup besar. Harga ikan asin gabus ini sedemikian tingginya, hingga para pedagang sering mengasinkan ikan tangkapan ini, meskipun dalam jumlah satu atau dua ekor saja.
# # #
Selain merupakan tangkapan dari alam, gabus juga merupakan produk sampingan dalam budidaya ikan air tawar maupun payau. Sebagai predator, gabus akan makan apa saja. Mulai dari kodok, udang, belut, ikan kecil, bahkan kadang-kadang tikus pun ditangkapnya. Sebab gabus bisa tahan berada di daratan dalam jangka waktu agak lama, karena adanya “labirin” yang bisa menangkap oksigen langsung dari udara, selain tentu saja punya insang. Ikan “hama” ini biasanya dijumpai dalam volume yang cukup besar, terutama di tambak udang. Baik udang air tawar (udang galah) maupun udang air payau (udang putih dan windu). Kadang-kadang para petambak membiarkan gabus ini tetap ada di tambak sebagai ikan hama, sebab nilai ekonomisnya juga cukup baik.
Gabus belum bisa diproduksi secara massal sebagaimana halnya lele, ikan mas, nila dan gurami, karena belum bisa dipijahkan secara buatan. Secara teknis, pemijahan buatan pada gabus sama saja dengan ikan lain, terutama sangat mirip dengan lele. Namun secara aplikatif, teknologi pemijahan ini belum bisa diterapkan, karena belum didukung oleh ketersediaan induk, terutama induk betina. Juga belum didukung oleh kesiapan pasar, yakni para peternak yang akan membesarkannya. Sebab beda dengan lele dumbo yang sudah bisa mengkonsumsi pelet, maka gabus sama dengan lele lokal, hanya mau pakan alami. Baik berupa hewan hidup, maupun yang sudah mati. Inilah yang menjadi penyebab, mengapa gabus masih belum bisa dimassalkan sebagaiana lele dumbo.
Meskipun pemijahan gabus secara buatan masih belum dilakukan secara massal untuk tujuan komersial, namun pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan. Sebelum teknik pemijahan buatan bisa diaplikasikan ke ikan mas, maka pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan untuk tujuan komersial. Bahkan teknik pemijahan buatan pada lele, baru bisa dilakukan setelah kedatangan lele dumbo. Sementara lele lokal sampai sekaranf tetap belum bisa dibudidayakan. Hingga pemijahan gabus secara alami tetap bisa dikembangkan, selain tetap mengandalkan upaya penangkapan benih dari alam secara manual.
Karena di alam aslinya gabus hidup di perairan dengan lubuk-lubuk yang dalam dan gelap, maka kolam tempat pemijahan gabus memerlukan lubang-lubang buatan. Pemijahan lele lokal yang dikembangkan pada awal tahun 1980an, menggunakan gentong-gentong yang ditaruh miring di dalam kolam. Gentong yang dimiringkan inilah yang dijadikan sarang untuk berpijah bagi lele. Upaya ini relatif berhasil digunakan untuk lele lokal. Tetapi teknik tersebut kemudian tidak berkembang, karena tidak lama kemudian diintroduksi lele dumbo yang bisa dipijahkan secara buatan, serta mau diberi pelet. Sejak itu lele lokal tersisihkan seperti halnya mujair.
# # #
Gabus adalah ikan air tawar dari keluarga Channidae. Barangkali karena sosoknya mirip ular, maka gabus juga disebut sebagai snakeheads. Ada dua  genera snakeheads, yakni genera Channa yang hidup di Asia dan Parachanna yang terdapat di Afrika. Dari dua genera itu, diperkirakan ada sekitar 30 spesies ikan gabus dengan perbedaan ukuran yang sangat mencolok.Yang paling kecil adalah Channa gachua dengan panjang 25 cm, dan digolongkan sebagai “dwarf snakehead”. Kebanyakan spesies gabus berukuran 60 sd. 100 cm. Dan hanya dua spesies yang mencapai ukuran di atas 1 m. dengan bobot 6 kg, yakni Channa marulius dan Channa micropeltes.
Dari 30 spesies snackhead tersebut, diantaranya adalah: Borna snackhead (Channa amphibeus), Northern snackhead (Channa argus), Channa asiatica, Channa aurantimaculata, Channa bankanensis, Barca snackhead (Channa barca), Rainbow snackhead (Channa bleheri), Channa burmanica, Channa cyanospilos, Channa gachua, Channa harcourtbutleri, Forest snackhead (Channa lucius), Channa maculata, Channa marulioides, Great snackhead (Channa marulius), Channa melanoptera, Black snackhead (Channa melasoma), Giant snackhead (Channa micropeltes), Channa nox, Walking snackhead (Channa orientalis), Channa panaw, Channa pleurophthalmus, Spotted snackhead (Channa stewartii), Snackhead murrel (Channa striata), Parachanna africana, Parachanna insignis, Obscure snackhead (Parachanna obscura).
Selama ini masyarakat menyebut semua snakehead dengan nama gabus. Padahal, gabus kita sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. Mulai dari Great snackehead (Channa marulius), Snackhead murrel (Channa striata), Giant snackhead (Channa micropetes), Forest snackhead (Channa lucius) dan Channa gacua. Tiga spesies gabus yang hidup di perairan Indonesia, Great snackehead, Snackhead murrel, dan Giant snackhead, bisa mencapai panjang 1 m. Forest snackhead hanya bisa mencapai panjang 40 cm, dan Channa gacua merupakan snakehead paling kecil, dengan panjang maksimun 20 cm. Channa gacua inilah yang di Jawa Tengah disebut “kotes”.
Great snackehead, pernah diberi nama Ophiocephalus striatus (Bloch, 1793) serta Ophiocephalus vagus (Peters, 1868). Namun nama yang sampai sekarang digunakan adalah Channa marulius (Hamilton, 1822). Dengan panjang bisa mencapai lebih dari 1 m, dan bobor lebih dari 6 kg, Channa striata, Channa marulius, dan Channa micropetes, potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya. Sifatnya sebagai ikan predator, bukan merupakan halangan untuk menjinakkannya hingga mau mengkonsumsi pakan buatan. Sebab lele dumbo dan patin pun, sebenarnya juga ikan carnifora. Demikian pula sidat jepang dan kodok Bullfrog dari AS, yang sekarang sudah bisa dibudidayakan secara intensif.
# # #
Sebelum upaya pemijahan serta penciptaan pakan buatan berhasil dilakukan, gabus tetap bisa dibudidayakan secara semi intensif. Caranya, pemijahan dilakukan secara alami, dengan kolam mendekati habitat asli gabus. Selanjutnya burayak gabus dikumpulkan, untuk dibudidayakan secara khusus dalam bak, dengan pakan intensif, aerator, serta sirkulasi air. Setelah mencapai ukuran di atas 10 cm, barulah anak gabus ini dibesarkan di kolam yang airnya mengalir. Sebab meskipun gabus mampu bernapas dengan labirinnya dalam lumpur, namun lumpur sungai, danau atau rawa, beda dengan lumpur kolam yang penuh dengan endapan sisa pakan serta kotoran.
Hingga kolam pembesaran gabus, mutlak memerlukan sirkulasi air. Pakan dalam produksi gabus semi intensif, bisa berupa limbah peternakan. Misalnya ayam atau itik yang mati, usus, jeroan ikan dll. Bisa pula agroindustri pembesaran gabus ini dikombinasikan dengan peternakan cacing atau bekicot. Limbah organik akan diolah oleh cacing dan bekicot menjadi kompos, sementara cacing dan bekicotnya akan menjadi makanan gabus. Cara lain adalah, dengan memelihara nila atau mujair biasa. Bukan nila yang 100% jantan. Sebab nila akan mudah sekali berkembangbiak. Anak-anak nila inilah yang akan menjadi pakan alami gabus.
Ikan mas pun, sebenarnya bisa menjadi pakan gabus. Sebab harga ikan mas, jauh lebih murah dibanding gabus. Caranya, kita bisa mengambil benih ikan mas ukuran 10 cm, kemudian dimasukkan ke kolam gabus. Secara periodik, ke dalam kolam gabus itu dimasukan anak ikan mas. Kalau harga ikan mas tidak terpaut banyan dibanding gabus, maka bisa dicari alternatif pakan lainnya. Bisa tawes, karper, patin, jambal air tawar dan lain-lain, yang harganya jauh di bawah gabus. Dengan cara seperti ini, petani ikan akan bisa meraih keuntungan lebih besar.Kalau hasil panen gabus melimpah dan harganya jatuh, masih bisa diasinkan, dengan nilai tambah bagi petaniikan. (R) # # #
About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

11 Responses to PRODUKSI IKAN GABUS SKALA KOMERSIAL

  1. yayat p says:
    sy berminat budidaya ikan gabus. Adakah petani/peternak yg bs dikunjungi untuk sharing? Trim’s
  2. chandra aja says:
    dan bobor lebih dari 6 kg, Channa striata, Channa marulius, dan Channa micropetes,
    bobot mas… bukan bobor, tapi.. itu aja koreksinya, terimakasih untuk bahan bacaannya, ini gabus udah makanin benih lele saya.. jadi saya pelajari. thanks yo.. sukses buat kita berdua…!!
  3. ponimanthang says:
    Dear all
    saya berminta untuk membeli ikan gabus dalam keadaan bersih.
    jumlah nya cukup besar 3 ton .
    jika ada silakkan hub saya di no 081220009091
    terima kasih]
    • Adil Darme Ysae says:
      selamat siang sy Nama Adil Darme yase sy punya sumber bahan baku ikan Gabus dalam jumlah besar, bs hubungi sy di No 085237272743 tks
  4. rizalrambe says:
    itu 3 ton kontrak atau sekali beli.
  5. seno says:
    pak ponimathang itu ikan gabus asin apa tawar biasa
  6. kang ayo says:
    BISA BAGI-BAGI CARA MEMELIHARANYA NGGAK ? TRIMA KASIH SEBELUMNYA
  7. sandy says:
    saya perlu ikan gabus hidup ukuran 1/2 kg setiap hari butuh 50 ekor…hub saya di sandyliga@gmail.com
    • diky says:
      hi sandy,.. aku ada bisa suply ikan gabus segar seperti permintaan , please provide detail address , contact,ect or please contact us for further information. thanks
  8. Zeka Sartika says:
    sekedar info di balai budidaya ikan air tawar mandiangin kalimantan selatan ikan gabus sudah bisa di pijahkan dan di budidayakan

Senin, 12 November 2012

Tapanuli Tobasa 50% Warga Pintu Bosi Berubah Lalu Tanam Ubi Racun


628529745XXXX : genta news hari dusun cot seumantok kecamatan babahrot abdya diresmikan menjadi desa persiapan     628136036XXXX : seorg warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : 1 org warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : 1 org warga arongan lambalek aceh barat hilang saat mencari kayu dihutan     628136036XXXX : info gempa mag 5 0 sr 11 01 2012 04 00 53 wib lok 2 39 lu 93 18 bt 325 km baratdaya kab simeulue kedlmn 59 km bmkg     62812694XXXX : hari ini aceh peringati 7 tahun tsunami aceh tgl 26 des 2011 di seluruh nad dan menaikkan bendera merah putih setengah tiang selama tiga hari gisafm     62812694XXXX : hari ini aceh peringati 7 tahun tsunami aceh tgl 26 des 2011 di seluruh provinsi aceh dan menaikkan bendera merah putih setengah tiang selama tiga ha     62812694XXXX : komplek perumahan korem lilawangsa tepatnya dibelakang rumah sakit kesrem lg terbakar dan hampir menghanguskan empat rumah gisafm lhokseumawe     628191776XXXX : news ratusan aktivis dan lsm yg trgbng dlm aliansi rkyt menggugat memnta gbrnr ntb membrhntikn bupati dan wabup lombok tengah krn plntknnya dinilai cct hkm     628191776XXXX : news nasip petani tembakau di pulau lombok terancam krn mndpt tntangan phk asing yg mengkampanyekan anti rokok intrnasional dn krng diprhtikn pemda stmpt     
30 Sep 2010

50% Warga Pintu Bosi Berubah Lalu Tanam Ubi Racun

Hotline Tapanuli FM - Hotline Tapanuli FM
Tapanuli Tobasa 29/9. Hal itu diakui Anto Napitupulu 60 thn warga Desa Pintu Bosi. "Pendapatan kami jelas meningkat, sebab lahan yang tadinya kosong, kini sudah berisi tanaman ubi racun," jelasnya.
Sembari mengatakan dari satu rante, warga mampu menghasilkan dua ton ubi per delapan bulan, atau dari satu hektare mampu menghasilkan 100 ton ubi per delapan bulan.

Ketika ditanya berapa besar peningkatan pendapatan keluarga warga per bulan, Anto enggan menjawab. Namun ia mengatakan, satu batang ubi racun dapat menghasilkan 2,5 kg sekali panen dan dapat dijual ke PT Hutahaean seharga Rp500 s/d Rp650 per kg.

Hal itu diakui sejumlah warga dan Kepala Desa Pintu Bosi. baru baru ini "Untuk saat ini, masyarakat saya tidak lagi banyak yang nongkrong di warung kopi, mereka sudah pergi bekerja membuka lahan perkebunan yang akan ditanami ubi racun.

Antusias masyarakat untuk menanam ubi ini disebabkan hadirnya PT Hutahaean, Pabrik Tapioka yang menampung ubi dengan harga sesuai pasar," kata Kepala Desa Pintu Bosi, Marasil Pangaribuan

Dia mengatakan, lahan perkebunan ubi racun di desanya sudah mencapai 75 hektare (ha), bahkan Marasil yakin lahan perkebunan akan bertambah karena warga bekerja dan berusaha membuka lahan tidur menjadi lahan produktif.

"Sebelum PT Hutahaean berdiri, banyak warga bermalas-malasan dan nongkrong di warung kopi. Sehingga pendapatan semakin merosot.

Namun, setelah pabrik ini berdiri, kehidupan warga berubah 50 persen. sejak mereka mengelola ubi racun, sepedamotor di daerah ini semakin bertambah. Rata-rata per rumah tangga sudah memiliki sepedamotor," jelas Marasil Pangaribuan.  [tt >lnwgt]